PKKMB UB 2026 Jadi Ruang Mahasiswa Asah Kemampuan Manajerial
- 11 Agt 2026 13:05 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang: Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) RAJA BRAWIJAYA 2026 tidak hanya menjadi momentum penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan manajerial melalui keterlibatan langsung dalam kepanitiaan.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB), Dr. Sujarwo mengatakan, mahasiswa menunjukkan kemampuan mengelola rangkaian kegiatan yang melibatkan puluhan ribu peserta. Pengelolaan tersebut dilakukan melalui koordinasi antara mahasiswa, dosen, pimpinan universitas, serta pihak eksternal.
Menurut Sujarwo, kemampuan mahasiswa dalam membangun komunikasi dan koordinasi menjadi salah satu hal yang diapresiasi dalam pelaksanaan PKKMB tahun ini.
“Kita sangat bangga karena adik-adik secara sistem membangun bagaimana kemampuan mereka mengelola puluhan ribu mahasiswa dengan tim yang semakin solid,” kata Sujarwo, Selasa (11/8/2026).
Ia menilai, kesiapan mahasiswa juga terlihat dari pengelolaan kegiatan hingga setelah acara selesai. Salah satunya dengan memastikan kawasan kampus kembali tertata sehingga aktivitas masyarakat di sekitar UB tidak terganggu.
“Kita lihat jam lima sampai jam enam (pagi) sudah clean. Sehingga masyarakat di sekitar UB, anak-anak yang sekolah, tidak terganggu dengan kegiatan dan lain sebagainya. Ini cerminan bagaimana adik-adik mempersiapkan kegiatan dengan sangat baik,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan PKKMB menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan organisasi yang selama ini diperoleh melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan Universitas Brawijaya (UB), Dr. Sujarwo mengatakan, mahasiswa menunjukkan kemampuan mengelola rangkaian kegiatan yang melibatkan puluhan ribu peserta. Pengelolaan tersebut dilakukan melalui koordinasi antara mahasiswa, dosen, pimpinan universitas, serta pihak eksternal.
Menurut Sujarwo, kemampuan mahasiswa dalam membangun komunikasi dan koordinasi menjadi salah satu hal yang diapresiasi dalam pelaksanaan PKKMB tahun ini.
“Kita sangat bangga karena adik-adik secara sistem membangun bagaimana kemampuan mereka mengelola puluhan ribu mahasiswa dengan tim yang semakin solid,” kata Sujarwo, Selasa (11/8/2026).
Ia menilai, kesiapan mahasiswa juga terlihat dari pengelolaan kegiatan hingga setelah acara selesai. Salah satunya dengan memastikan kawasan kampus kembali tertata sehingga aktivitas masyarakat di sekitar UB tidak terganggu.
“Kita lihat jam lima sampai jam enam (pagi) sudah clean. Sehingga masyarakat di sekitar UB, anak-anak yang sekolah, tidak terganggu dengan kegiatan dan lain sebagainya. Ini cerminan bagaimana adik-adik mempersiapkan kegiatan dengan sangat baik,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan PKKMB menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan organisasi yang selama ini diperoleh melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan.
“Mereka tidak hanya menjalankan tugas teknis, tetapi juga belajar mengatur sumber daya, membangun komunikasi lintas pihak, serta mengambil keputusan selama kegiatan berlangsung,” tutur Sujarwo.
Sujarwo mengungkapkan, pihak universitas memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk menunjukkan kapasitas tersebut. Menurutnya, pengalaman menjadi panitia menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar ruang kelas.
“Adik-adik mahasiswa punya ruang yang cukup untuk mengekspresikan kapasitas manajerial mereka di dalam kepanitiaan. Kami sebagai panitia dosen sangat berterima kasih dan bersyukur punya mahasiswa yang punya komitmen, dedikasi, dan memegang amanah,” ujarnya.
PKKMB RAJA BRAWIJAYA 2026 yang diikuti 17 ribu maba berlangsung di tingkat universitas pada 10–12 Agustus 2026, sebelum dilanjutkan pada tingkat fakultas pada 13–15 Agustus 2026. Pada pelaksanaan di tingkat fakultas, pengawasan dan koordinasi tetap dilakukan untuk memastikan rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan prinsip pendidikan dan pembinaan mahasiswa.
Sujarwo menyebut, koordinasi juga dilakukan melalui forum pimpinan bidang kemahasiswaan di tingkat fakultas. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan pelaksanaan PKKMB tetap sejalan dengan arah pembinaan mahasiswa UB.
Selain kemampuan manajerial, aspek keamanan dan kenyamanan mahasiswa juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan PKKMB. Hal ini semakin penting di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan masifnya penggunaan media sosial yang turut meningkatkan kompleksitas persoalan di lingkungan mahasiswa.
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah potensi perundungan atau bullying. Karena itu, nilai-nilai inklusivitas dan penghormatan terhadap sesama menjadi bagian penting dalam pembinaan mahasiswa baruz
“Zaman sekarang, zaman AI, zaman media sosial, kompleksitasnya semakin tinggi. Sehingga bullying itu sudah harus kita reduksi sampai level eliminasi,” tegasnya.
Sujarwo mengungkapkan, pihak universitas memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk menunjukkan kapasitas tersebut. Menurutnya, pengalaman menjadi panitia menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di luar ruang kelas.
“Adik-adik mahasiswa punya ruang yang cukup untuk mengekspresikan kapasitas manajerial mereka di dalam kepanitiaan. Kami sebagai panitia dosen sangat berterima kasih dan bersyukur punya mahasiswa yang punya komitmen, dedikasi, dan memegang amanah,” ujarnya.
PKKMB RAJA BRAWIJAYA 2026 yang diikuti 17 ribu maba berlangsung di tingkat universitas pada 10–12 Agustus 2026, sebelum dilanjutkan pada tingkat fakultas pada 13–15 Agustus 2026. Pada pelaksanaan di tingkat fakultas, pengawasan dan koordinasi tetap dilakukan untuk memastikan rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan prinsip pendidikan dan pembinaan mahasiswa.
Sujarwo menyebut, koordinasi juga dilakukan melalui forum pimpinan bidang kemahasiswaan di tingkat fakultas. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan pelaksanaan PKKMB tetap sejalan dengan arah pembinaan mahasiswa UB.
Selain kemampuan manajerial, aspek keamanan dan kenyamanan mahasiswa juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan PKKMB. Hal ini semakin penting di tengah perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan masifnya penggunaan media sosial yang turut meningkatkan kompleksitas persoalan di lingkungan mahasiswa.
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah potensi perundungan atau bullying. Karena itu, nilai-nilai inklusivitas dan penghormatan terhadap sesama menjadi bagian penting dalam pembinaan mahasiswa baruz
“Zaman sekarang, zaman AI, zaman media sosial, kompleksitasnya semakin tinggi. Sehingga bullying itu sudah harus kita reduksi sampai level eliminasi,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....