UB Gandeng Disdagrin Manggarai Barat, Perkuat IKM Berbasis Riset dan Teknologi
- 30 Jul 2026 14:11 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi kolaborasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Kabupaten Manggarai Barat untuk memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui pemanfaatan hasil riset, inovasi teknologi, dan pendampingan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut digagas oleh Center of Excellence Community-Based Sustainable Agroindustry (CoE CBSA) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB sebagai upaya mendorong hilirisasi komoditas lokal agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Ketua CoE CBSA FTAB UB, Dr. Dodyk Pranowo, S.TP., M.Si. mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
"Kami meyakini inovasi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, CoE CBSA berkomitmen menjembatani hasil riset, teknologi, dan keahlian akademik dengan kebutuhan pemerintah daerah, pelaku IKM, serta masyarakat," kata Dodyk.
Menurut Dodyk, pendampingan yang dilakukan tidak sebatas transfer teknologi, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas pelaku usaha agar inovasi yang diterapkan dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
“Manggarai Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, pangan olahan, hingga pariwisata,” ucapnya.
Kerja sama tersebut digagas oleh Center of Excellence Community-Based Sustainable Agroindustry (CoE CBSA) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB sebagai upaya mendorong hilirisasi komoditas lokal agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Ketua CoE CBSA FTAB UB, Dr. Dodyk Pranowo, S.TP., M.Si. mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
"Kami meyakini inovasi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Karena itu, CoE CBSA berkomitmen menjembatani hasil riset, teknologi, dan keahlian akademik dengan kebutuhan pemerintah daerah, pelaku IKM, serta masyarakat," kata Dodyk.
Menurut Dodyk, pendampingan yang dilakukan tidak sebatas transfer teknologi, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas pelaku usaha agar inovasi yang diterapkan dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
“Manggarai Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, perikanan, pangan olahan, hingga pariwisata,” ucapnya.
Potensi tersebut dinilai membutuhkan dukungan industri lokal yang lebih kuat agar komoditas tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.
"Harapan kami, kolaborasi ini mampu melahirkan model pengembangan IKM yang berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperkuat daya saing produk, serta memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat," katanya.
Sementara itu, Kepala Disdagrin Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo menilai, pengembangan IKM membutuhkan dukungan riset dan pendampingan yang berkelanjutan, tidak hanya bantuan peralatan maupun pelatihan jangka pendek.
Menurutnya, pelaku usaha memerlukan penguatan manajemen, inovasi proses produksi, standardisasi mutu, pengembangan desain dan kemasan, hingga perluasan akses pasar agar mampu meningkatkan daya saing produk.
"Kolaborasi dengan Universitas Brawijaya diharapkan menghasilkan program yang berbasis data, riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperkuat perekonomian Manggarai Barat," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, tim CoE CBSA juga memaparkan peta jalan pengembangan periode 2026–2030 yang meliputi proses pembuktian konsep, penelitian dan pengembangan, pembuatan purwarupa, peningkatan skala produksi, hingga komersialisasi inovasi.
Pengembangan tersebut mencakup pengolahan pangan bernilai tambah, diversifikasi produk UMKM, teknologi tepat guna, kemasan berkelanjutan, keamanan pangan, sertifikasi produk, digitalisasi pemasaran, inkubasi bisnis, hingga penguatan merek.
Selain itu, kedua pihak mulai membahas dua program prioritas. Program pertama bertajuk Mama Tangguh Bajo, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan limbah organik berbasis biokonversi maggot untuk mendukung ekonomi sirkular.
Program kedua adalah Bajo Teknoaktif, yakni revitalisasi teknologi tepat guna guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas produk IKM berbasis potensi lokal.
Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendukung Program SINERGI (Skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi), yang mendorong hasil penelitian perguruan tinggi berkembang menjadi teknologi, model bisnis, hingga inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
"Harapan kami, kolaborasi ini mampu melahirkan model pengembangan IKM yang berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperkuat daya saing produk, serta memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat," katanya.
Sementara itu, Kepala Disdagrin Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo menilai, pengembangan IKM membutuhkan dukungan riset dan pendampingan yang berkelanjutan, tidak hanya bantuan peralatan maupun pelatihan jangka pendek.
Menurutnya, pelaku usaha memerlukan penguatan manajemen, inovasi proses produksi, standardisasi mutu, pengembangan desain dan kemasan, hingga perluasan akses pasar agar mampu meningkatkan daya saing produk.
"Kolaborasi dengan Universitas Brawijaya diharapkan menghasilkan program yang berbasis data, riset, inovasi, dan kebutuhan nyata masyarakat sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperkuat perekonomian Manggarai Barat," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, tim CoE CBSA juga memaparkan peta jalan pengembangan periode 2026–2030 yang meliputi proses pembuktian konsep, penelitian dan pengembangan, pembuatan purwarupa, peningkatan skala produksi, hingga komersialisasi inovasi.
Pengembangan tersebut mencakup pengolahan pangan bernilai tambah, diversifikasi produk UMKM, teknologi tepat guna, kemasan berkelanjutan, keamanan pangan, sertifikasi produk, digitalisasi pemasaran, inkubasi bisnis, hingga penguatan merek.
Selain itu, kedua pihak mulai membahas dua program prioritas. Program pertama bertajuk Mama Tangguh Bajo, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan limbah organik berbasis biokonversi maggot untuk mendukung ekonomi sirkular.
Program kedua adalah Bajo Teknoaktif, yakni revitalisasi teknologi tepat guna guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas produk IKM berbasis potensi lokal.
Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendukung Program SINERGI (Skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi), yang mendorong hasil penelitian perguruan tinggi berkembang menjadi teknologi, model bisnis, hingga inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....