Modernisasi dan Branding, Kunci Hidupkan Kembali Makanan Tradisional

  • 30 Jul 2026 12:36 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Minat generasi muda terhadap makanan tradisional dinilai terus menurun seiring berkembangnya tren pangan modern. Kondisi tersebut, menurut Guru Besar Bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Erni Sofia Murtini dapat diatasi dengan inovasi, modernisasi, dan strategi branding yang tepat.

Menurutnya, makanan tradisional tidak bisa hanya dipasarkan dengan cara lama. Produk pangan lokal harus mampu menyesuaikan diri dengan tren global yang kini lebih mengedepankan aspek kesehatan, kepraktisan, dan tampilan yang menarik.

"Apapun harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sekarang tren pangan global itu makanan yang menyehatkan. Maka makanan tradisional harus ditonjolkan nilai gizinya dan manfaat kesehatannya," kata Prof. Erni, Kamis (30/7/2026).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki banyak pangan tradisional yang sebenarnya kaya nutrisi. Salah satunya adalah tempe yang kini justru lebih dulu mendapat pengakuan di pasar internasional sebagai superfood karena kaya protein, mengandung asam amino esensial lengkap, dan menjadi alternatif sumber protein bagi masyarakat vegan maupun vegetarian.

"Di luar negeri, tempe dianggap sebagai superfood. Kandungan gizinya menjadi nilai jual utama sehingga masyarakat mau membayar lebih mahal," katanya.

Selain memperkuat nilai gizi, Prof. Erni menilai proses pembuatan makanan tradisional juga perlu disesuaikan dengan gaya hidup masyarakat modern yang menginginkan segala sesuatu serba praktis.

Ia mencontohkan pembuatan apem yang secara tradisional membutuhkan waktu berjam-jam. Menurutnya, teknologi pangan dapat dimanfaatkan untuk mempersingkat proses produksi tanpa mengurangi kualitas maupun cita rasa.

"Kalau membuat apem butuh waktu 10 jam, anak muda tentu kurang tertarik. Tetapi kalau dengan teknologi bisa dibuat dalam satu jam dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik, mereka akan lebih tertarik mempelajarinya," jelasnya.

Selain inovasi produk, Prof. Erni menilai keberhasilan makanan tradisional di pasar global juga ditentukan oleh strategi komunikasi dan pemasaran. Ia mencontohkan kimchi dari Korea Selatan yang berhasil menjadi produk mendunia bukan semata karena rasanya, melainkan didukung promosi yang konsisten melalui budaya populer, termasuk drama dan film.

"Kimchi bisa dikenal di seluruh dunia karena branding-nya sangat kuat. Makanan itu terus ditampilkan dalam drama Korea sehingga masyarakat memiliki persepsi positif terhadap produk tersebut," ujarnya.

Sehingga, pendekatan serupa dapat diterapkan pada makanan tradisional Indonesia dengan memperkuat promosi melalui media, industri kreatif, hingga penyajian yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Ia optimistis makanan tradisional akan kembali diminati seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat dan kecenderungan mengurangi konsumsi pangan ultra proses.

"Saya yakin suatu saat masyarakat akan kembali ke makanan tradisional. Yang penting proses pembuatannya dibuat lebih sederhana, gizinya ditingkatkan, kemasannya lebih menarik, dan manfaat kesehatannya disampaikan dengan baik. Kalau itu dilakukan, generasi muda pasti akan tertarik," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....