Pembatasan Ponsel di Sekolah Turunkan Intensitas Internet Remaja
- 30 Jun 2026 15:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang- Kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler di sekolah mulai menunjukkan dampak positif terhadap kebiasaan digital remaja. Survei terbaru dari Pew Research Center mencatat persentase remaja yang mengaku "hampir selalu" terhubung ke internet menurun dari 46 persen pada 2024 menjadi 40 persen pada 2025, seiring diterapkannya aturan pembatasan ponsel di berbagai sekolah.
Dilansir dari Medical Daily, Selasa (30/6/2026), lebih dari dua belas negara bagian di Amerika Serikat telah menerapkan kebijakan yang melarang atau membatasi penggunaan ponsel selama jam pelajaran. Aturan serupa juga diberlakukan di sejumlah distrik sekolah besar, termasuk di Los Angeles, New York, Chicago, dan Houston, guna menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan meminimalkan gangguan di ruang kelas.
Meski demikian, para peneliti menilai penurunan intensitas penggunaan internet tersebut belum tentu menunjukkan perubahan perilaku digital remaja secara sukarela. Mereka memperkirakan penurunan lebih banyak dipengaruhi oleh terbatasnya akses terhadap ponsel selama berada di lingkungan sekolah dibandingkan keinginan siswa untuk mengurangi penggunaan gawai.
Kebijakan pembatasan ponsel mendapat dukungan dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, pendidik, hingga pembuat kebijakan di Amerika Serikat. Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan mental remaja, termasuk tingginya angka kecemasan, depresi, dan rasa kesepian yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan penggunaan media sosial secara berlebihan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa pembatasan ponsel bukan merupakan solusi tunggal untuk mengatasi persoalan tersebut. Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang memastikan bahwa kebijakan tersebut secara langsung mampu meningkatkan kesehatan mental, kualitas tidur, maupun prestasi akademik siswa. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui dampak jangka panjangnya.
Selain itu, efektivitas kebijakan juga dipengaruhi oleh perbedaan aturan di setiap sekolah. Beberapa sekolah menerapkan larangan penggunaan ponsel sepanjang hari, sementara sekolah lainnya masih memperbolehkan siswa menggunakan perangkat tersebut pada waktu istirahat atau di area tertentu. Variasi kebijakan ini membuat para peneliti masih terus mengkaji efektivitas masing-masing pendekatan.
Para pakar juga menilai pembentukan kebiasaan digital yang sehat tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah saja. Peran orang tua di rumah dinilai sama pentingnya, misalnya dengan menerapkan waktu bebas gawai saat belajar maupun menjelang tidur. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu remaja mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital sekaligus memaksimalkan manfaat dari kebijakan pembatasan penggunaan ponsel di sekolah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....