Mahasiswa Sulap Limbah Kulit Delima Jadi Antibakteri Ramah Lingkungan

  • 29 Jun 2026 10:36 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Limbah kulit buah delima yang selama ini kerap dibuang ternyata memiliki potensi besar sebagai bahan antibakteri ramah lingkungan. Potensi tersebut berhasil dibuktikan melalui penelitian Shofia Jannatul Ma’rifah, mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Malang (UNISMA).

Penelitian yang bermula dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek itu berhasil memperoleh pendanaan nasional sebelum kemudian dikembangkan Shofia menjadi tugas akhir. Berkat publikasi hasil risetnya di jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 2, ia bahkan memperoleh fasilitas penyelesaian studi tanpa harus menempuh skripsi konvensional.

"Sebenarnya penelitian ini berawal dari PKM. Kami meneliti kandungan pada limbah kulit buah delima dan menemukan bahwa ekstraknya memiliki aktivitas sebagai antibakteri," ungkapnya.

Tidak berhenti pada penelitian ekstrak biasa, Sofia mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan ekstrak kulit delima sebagai bioreduktor dalam sintesis nanopartikel besi.

Menurutnya, penggunaan bioreduktor alami menjadi alternatif yang lebih aman dibandingkan bahan kimia yang lazim digunakan dalam pembuatan nanopartikel.

"Biasanya sintesis nanopartikel menggunakan bahan kimia yang berpotensi mencemari lingkungan. Kami mencoba menggunakan ekstrak kulit buah delima sebagai bioreduktor sehingga prosesnya lebih ramah lingkungan," jelasnya.

Ia menerangkan, ukuran partikel yang diperkecil hingga skala nano membuat kemampuan antibakteri menjadi lebih efektif karena mampu berinteraksi lebih optimal dengan sel bakteri.

"Semakin kecil ukuran partikelnya, semakin efektif dalam melisis atau merusak sel bakteri sehingga aktivitas antibakterinya juga meningkat," katanya.

Penelitian tersebut masih dilakukan pada tahap invitro di laboratorium. Meski demikian,

Shofia melihat peluang pengembangan yang lebih luas. Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan dari Program Studi Kelautan membuka kemungkinan pemanfaatan ekstrak kulit delima sebagai antioksidan sekaligus untuk mendukung riset terkait pencemaran lingkungan, termasuk penanganan mikroplastik.

"Saya berharap penelitian ini bisa dikembangkan lebih jauh karena ternyata ekstrak kulit delima juga memiliki potensi sebagai antioksidan dan dapat dimanfaatkan dalam penelitian lingkungan," ujarnya.

Di balik keberhasilan tersebut, Shofia mengaku menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku. Limbah kulit delima relatif sulit ditemukan di Malang sehingga ia harus mencari sumber bahan dari Kediri yang memiliki industri pengolahan buah delima.

"Seharusnya kami bisa memanfaatkan limbah dari industri, tetapi karena sulit didapat di Malang, akhirnya kami membeli buah delimanya langsung untuk memperoleh kulitnya sebagai bahan penelitian," tuturnya.

Selain aktif melakukan penelitian, Shofia juga aktif berorganisasi di UKM Jamiatul Qurro' wal Huffadz (JQH) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Biologi. Ia juga menjalani aktivitas sebagai santri di Pondok Pesantren Ainul Yaqin.

Menurutnya, kunci menjalani berbagai aktivitas tersebut adalah kemampuan mengatur waktu dan menjaga komitmen terhadap target yang telah ditetapkan. Sehingga Shofia menjadi salah seorang lulusan terbaik pada wisuda Unisma periode ke-79.

"Setiap hari jadwal saya cukup padat, mulai dari mengaji, kuliah, penelitian hingga organisasi. Kuncinya adalah disiplin mengatur waktu agar semuanya bisa berjalan dengan baik," katanya.

Motivasi terbesar Shofia adalah membalas perjuangan kedua orang tuanya yang telah mendukung pendidikannya hingga perguruan tinggi.

"Saya ingin membahagiakan orang tua. Semoga semua usaha yang saya lakukan menjadi kebanggaan bagi mereka dan membuat perjuangan mereka menyekolahkan saya tidak sia-sia," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....