Riset Dosen UB Raih Pengakuan Internasional di Konferensi Teknologi Dunia

  • 23 Jun 2026 19:43 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dua dosen Universitas Brawijaya (UB) berhasil meraih penghargaan Best Presenter dalam ajang The 14th International Conference on Advances in Information Technology (IAIT 2026) yang digelar di Bangkok, Thailand, pada 17–19 Juni 2026 lalu.

Mereka adalah Dr. Muhammad Ali Fauzi dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) dan Dr. Henny Rosalinda dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Keduanya memperoleh penghargaan melalui penelitian yang mengangkat isu strategis terkait kecerdasan artifisial, mulai dari perlindungan privasi lansia hingga pengembangan AI yang aman bagi perempuan dan anak.

Dr. Muhammad Ali Fauzi dinobatkan sebagai Best Presenter pada sesi Cybersecurity, Privacy, and Threat Intelligence melalui paper berjudul “Hybrid GCN-LSTM for Privacy-Preserving Fall Detection in Human Pose-Based Elderly Monitoring Systems.”

Penelitian tersebut menawarkan pendekatan baru dalam pemantauan kesehatan lansia dengan memanfaatkan kombinasi teknologi Graph Convolutional Network (GCN) dan Long Short-Term Memory (LSTM). Sistem yang dikembangkan mampu mendeteksi risiko jatuh melalui analisis pose tubuh tanpa harus mengorbankan privasi pengguna.

“Inovasi ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi digital dalam layanan kesehatan, namun tetap membutuhkan perlindungan terhadap data pribadi,” kata Muhammad Ali Fauzi, Selasa (23/6/2026).

Tidak hanya meraih penghargaan, Muhammad Ali Fauzi juga mendapat kehormatan sebagai Invited Speaker dalam konferensi tersebut. Ia membawakan materi bertajuk “Trustworthy AI by Design: Integrating Privacy-Preserving Learning and Explainability in Sensitive Domains” yang membahas pentingnya pengembangan AI yang transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan menjaga privasi pengguna.

Sementara itu, Dr. Henny Rosalinda meraih penghargaan Best Presenter pada sesi Data Governance, AI Policy, and Digital Transformation melalui paper berjudul “SAFE AI: Designing a Gender-Responsive and Child-Safe AI Framework.”

Penelitian tersebut memperkenalkan kerangka SAFE AI (Safety, Accountability, Fairness, and Explainability)!sebagai model pengembangan kecerdasan artifisial yang tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga memperhatikan perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak.

Menurut Henny, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses penelitian yang panjang dan melalui berbagai tahapan evaluasi ilmiah yang ketat.

“Keberhasilan ini tidak diperoleh secara instan. Sebelum dipresentasikan pada IAIT 2026, setiap paper harus melalui proses seleksi ilmiah yang ketat, mulai dari peer review internasional, revisi berdasarkan masukan reviewer, hingga penyempurnaan substansi penelitian,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa para reviewer memberikan banyak masukan terkait kebaruan penelitian, metodologi, hingga kontribusi ilmiah yang dihasilkan.

“Kami harus melalui beberapa putaran revisi sebelum paper dinyatakan diterima. Proses tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga karena membuat kualitas penelitian semakin kuat,” tambahnya.

IAIT 2026 merupakan konferensi internasional yang diselenggarakan oleh School of Information Technology, King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand, bekerja sama dengan IEEE Computational Intelligence Society (IEEE CIS). Seluruh paper yang lolos seleksi dipublikasikan dalam ACM International Conference Proceedings Series (ICPS) yang terindeks dalam berbagai basis data ilmiah internasional.

Tahun ini, konferensi mengangkat tema “Trustworthy AI and Cybersecurity: Foundations for a Resilient Digital Future” dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan perkembangan terbaru di bidang kecerdasan artifisial, keamanan siber, tata kelola data, dan transformasi digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....