UB Naik 64 Peringkat di QS WUR 2027, Kian Dekat Tembus 500 Besar Dunia
- 21 Jun 2026 07:07 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) mencatat lonjakan signifikan dalam pemeringkatan QS World University Rankings (QS WUR) 2027. UB berhasil menempati peringkat ke-616 dunia, naik 64 posisi dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-680.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu capaian terbaik di antara Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) di Indonesia. Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Imam Santoso, menyebut peningkatan ini menunjukkan tren positif yang tidak dialami seluruh perguruan tinggi pada edisi pemeringkatan tahun ini.
“Di antara PTNBH, UB mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 64 peringkat. Beberapa PTNBH ada yang naik, namun ada juga yang justru mengalami penurunan posisi,” ujar Prof. Imam, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil konsistensi sivitas akademika dalam memperkuat riset, publikasi ilmiah, inovasi, serta kolaborasi internasional yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Selain naik peringkat, skor keseluruhan UB juga meningkat dari 25,9 menjadi 28,0 atau tumbuh sekitar 8,1 persen. Posisi relatif UB di tingkat global turut menguat. Jika pada QS WUR 2026 UB berada di atas 54,9 persen universitas yang diperingkatkan, pada edisi 2027 angka tersebut meningkat menjadi 59,1 persen.
Pencapaian ini diraih di tengah persaingan global yang semakin ketat. QS mencatat sebanyak 8.808 institusi dari 106 negara dan wilayah dievaluasi pada edisi 2027, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang melibatkan 8.467 institusi. Dari jumlah tersebut, hanya 1.504 universitas yang berhasil masuk daftar pemeringkatan resmi.
Ia menyebut, peningkatan peringkat UB terutama didorong oleh menguatnya indikator Academic Reputation atau reputasi akademik. Pada indikator ini, UB naik dari peringkat 404 dunia menjadi peringkat 367 dunia. Skor reputasi akademik meningkat dari 30,1 menjadi 33,4 dan menjadi penyumbang terbesar terhadap nilai keseluruhan universitas.
“Peringkat UB meningkat dari kelompok 801+ menjadi peringkat 725 dunia. Rasio dosen terhadap mahasiswa juga meningkat dari 11,3 menjadi 13,2 dosen per 100 mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Hendrix, angka tersebut berada di atas median global yang mencapai 7,7 dosen per 100 mahasiswa. Kondisi itu dinilai dapat mendukung kualitas pembelajaran, pembimbingan akademik, serta interaksi antara dosen dan mahasiswa.
Selain reputasi dan internasionalisasi, aspek keberlanjutan atau Sustainability menjadi salah satu indikator yang menunjukkan perkembangan positif. Skor Sustainability UB meningkat dari 53,3 menjadi 60,4, sementara peringkat globalnya naik dari sekitar 636 menjadi 614 dunia. Pada QS WUR 2027, indikator ini menyumbang lebih dari 10 persen terhadap skor keseluruhan UB.
“Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya kontribusi UB dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, pengelolaan lingkungan kampus, dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Hendrix.
Di bidang penelitian, jumlah publikasi yang digunakan dalam perhitungan QS meningkat hampir 10 persen, dari sekitar 8.443 menjadi 9.259 publikasi. Sementara itu, jumlah sitasi tanpa sitasi mandiri meningkat lebih dari 31 persen, dari sekitar 28.941 menjadi 37.981 sitasi. Pertumbuhan tersebut terjadi di berbagai rumpun ilmu, terutama bidang Life Sciences and Medicine, Engineering and Technology, serta Social Sciences and Management.
“Meski demikian, indikator Citations per Faculty masih menjadi tantangan. Skor UB pada indikator ini masih berada pada kelompok peringkat 801+ dunia. Karena itu, peningkatan kualitas publikasi, penguatan kolaborasi internasional, dan peningkatan dampak sitasi menjadi fokus penting ke depan,” tandasnya.
Secara nasional, UB berada di sekitar peringkat kedelapan Indonesia dalam QS WUR 2027 serta masuk lima besar nasional untuk indikator Academic Reputation dan Employer Reputation.
Prof. Imam berharap tren positif ini dapat terus dipertahankan melalui penguatan jejaring internasional, kolaborasi profesor, peningkatan publikasi bersama, serta perluasan kemitraan dengan universitas dunia.
“Capaian ini menjadi pengakuan atas upaya yang telah dilakukan seluruh sivitas akademika. Namun yang lebih penting, hasil ini menjadi evaluasi dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, internasionalisasi, serta dampak UB bagi masyarakat,” pungkas Prof. Imam.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu capaian terbaik di antara Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) di Indonesia. Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Imam Santoso, menyebut peningkatan ini menunjukkan tren positif yang tidak dialami seluruh perguruan tinggi pada edisi pemeringkatan tahun ini.
“Di antara PTNBH, UB mencatatkan kenaikan tertinggi hingga 64 peringkat. Beberapa PTNBH ada yang naik, namun ada juga yang justru mengalami penurunan posisi,” ujar Prof. Imam, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil konsistensi sivitas akademika dalam memperkuat riset, publikasi ilmiah, inovasi, serta kolaborasi internasional yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Selain naik peringkat, skor keseluruhan UB juga meningkat dari 25,9 menjadi 28,0 atau tumbuh sekitar 8,1 persen. Posisi relatif UB di tingkat global turut menguat. Jika pada QS WUR 2026 UB berada di atas 54,9 persen universitas yang diperingkatkan, pada edisi 2027 angka tersebut meningkat menjadi 59,1 persen.
Pencapaian ini diraih di tengah persaingan global yang semakin ketat. QS mencatat sebanyak 8.808 institusi dari 106 negara dan wilayah dievaluasi pada edisi 2027, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang melibatkan 8.467 institusi. Dari jumlah tersebut, hanya 1.504 universitas yang berhasil masuk daftar pemeringkatan resmi.
Ia menyebut, peningkatan peringkat UB terutama didorong oleh menguatnya indikator Academic Reputation atau reputasi akademik. Pada indikator ini, UB naik dari peringkat 404 dunia menjadi peringkat 367 dunia. Skor reputasi akademik meningkat dari 30,1 menjadi 33,4 dan menjadi penyumbang terbesar terhadap nilai keseluruhan universitas.
“Capaian tersebut menunjukkan semakin kuatnya pengakuan akademisi internasional terhadap kualitas pendidikan, penelitian, dan kontribusi keilmuan UB,” ungkapnya.
Sementara itu, indikator Employer Reputation atau reputasi lulusan tetap menjadi salah satu kekuatan utama UB. Universitas Brawijaya menempati peringkat 223 dunia dengan skor 53,3, memperlihatkan tingginya tingkat kepercayaan dunia usaha, industri, pemerintahan, dan berbagai organisasi terhadap lulusan UB.
“Secara keseluruhan, dua indikator reputasi tersebut menyumbang lebih dari 60 persen terhadap skor total UB dalam QS WUR 2027,” tutur Prof. Imam.
Kemajuan penting juga terjadi pada indikator International Faculty. Peringkat UB naik 60 posisi, dari peringkat 531 menjadi 471 dunia. Skornya melonjak dari 35,9 menjadi 49,6.
Sementara itu, indikator Employer Reputation atau reputasi lulusan tetap menjadi salah satu kekuatan utama UB. Universitas Brawijaya menempati peringkat 223 dunia dengan skor 53,3, memperlihatkan tingginya tingkat kepercayaan dunia usaha, industri, pemerintahan, dan berbagai organisasi terhadap lulusan UB.
“Secara keseluruhan, dua indikator reputasi tersebut menyumbang lebih dari 60 persen terhadap skor total UB dalam QS WUR 2027,” tutur Prof. Imam.
Kemajuan penting juga terjadi pada indikator International Faculty. Peringkat UB naik 60 posisi, dari peringkat 531 menjadi 471 dunia. Skornya melonjak dari 35,9 menjadi 49,6.
“Capaian ini menunjukkan meningkatnya daya tarik UB bagi akademisi internasional untuk mengajar, meneliti, dan membangun kolaborasi akademik,” kata dia.
Ketua UPT Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan menjelaskan peningkatan juga terlihat pada indikator Faculty Student Ratio atau rasio dosen dan mahasiswa.
Ketua UPT Global Partnership and Reputation UB, Hendrix Yulis Setyawan menjelaskan peningkatan juga terlihat pada indikator Faculty Student Ratio atau rasio dosen dan mahasiswa.
“Peringkat UB meningkat dari kelompok 801+ menjadi peringkat 725 dunia. Rasio dosen terhadap mahasiswa juga meningkat dari 11,3 menjadi 13,2 dosen per 100 mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Hendrix, angka tersebut berada di atas median global yang mencapai 7,7 dosen per 100 mahasiswa. Kondisi itu dinilai dapat mendukung kualitas pembelajaran, pembimbingan akademik, serta interaksi antara dosen dan mahasiswa.
Selain reputasi dan internasionalisasi, aspek keberlanjutan atau Sustainability menjadi salah satu indikator yang menunjukkan perkembangan positif. Skor Sustainability UB meningkat dari 53,3 menjadi 60,4, sementara peringkat globalnya naik dari sekitar 636 menjadi 614 dunia. Pada QS WUR 2027, indikator ini menyumbang lebih dari 10 persen terhadap skor keseluruhan UB.
“Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya kontribusi UB dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, pengelolaan lingkungan kampus, dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkap Hendrix.
Di bidang penelitian, jumlah publikasi yang digunakan dalam perhitungan QS meningkat hampir 10 persen, dari sekitar 8.443 menjadi 9.259 publikasi. Sementara itu, jumlah sitasi tanpa sitasi mandiri meningkat lebih dari 31 persen, dari sekitar 28.941 menjadi 37.981 sitasi. Pertumbuhan tersebut terjadi di berbagai rumpun ilmu, terutama bidang Life Sciences and Medicine, Engineering and Technology, serta Social Sciences and Management.
“Meski demikian, indikator Citations per Faculty masih menjadi tantangan. Skor UB pada indikator ini masih berada pada kelompok peringkat 801+ dunia. Karena itu, peningkatan kualitas publikasi, penguatan kolaborasi internasional, dan peningkatan dampak sitasi menjadi fokus penting ke depan,” tandasnya.
Secara nasional, UB berada di sekitar peringkat kedelapan Indonesia dalam QS WUR 2027 serta masuk lima besar nasional untuk indikator Academic Reputation dan Employer Reputation.
Prof. Imam berharap tren positif ini dapat terus dipertahankan melalui penguatan jejaring internasional, kolaborasi profesor, peningkatan publikasi bersama, serta perluasan kemitraan dengan universitas dunia.
“Capaian ini menjadi pengakuan atas upaya yang telah dilakukan seluruh sivitas akademika. Namun yang lebih penting, hasil ini menjadi evaluasi dan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, internasionalisasi, serta dampak UB bagi masyarakat,” pungkas Prof. Imam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....