Setahun di Jepang, Empat Mahasiswi STIE Malangkuçeçwara Bawa Pengalaman Baru
- 12 Jun 2026 06:16 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Empat mahasiswi STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang kembali ke kampus setelah menyelesaikan program magang sekaligus student exchange di Jepang selama satu tahun. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mereka untuk mengenal budaya kerja internasional, meningkatkan kemampuan bahasa, hingga memperluas jejaring pertemanan lintas negara.
Empat mahasiswa yang mengikuti program tersebut yakni Nur Isna Faisa, Regina Septi Wanti Bere, Regina Agustin, dan Ravena Aisah Agustin.
Nur Isna Faisa mengatakan pengalaman tinggal dan bekerja di Jepang memberikan banyak pembelajaran yang sulit didapatkan di ruang kelas.
“Selama satu tahun di Jepang yang paling terasa itu budaya kerjanya. Lingkungan kerja, kehidupan sehari-hari, sampai tempat tinggal semuanya berbeda dengan yang biasa kami jalani di Indonesia,” ujarnya. Kamis 11 Juni 2026.
Menurut Isna, salah satu nilai yang paling berkesan adalah kedisiplinan terhadap waktu yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sana waktu itu benar-benar dihargai. Kalau ada jadwal bertemu atau mulai bekerja di jam tertentu ya harus tepat waktu. Kita juga dituntut untuk lebih cepat, lebih cekatan dan tidak bekerja dengan lambat,” katanya.
Selain soal disiplin, pengalaman internasional tersebut juga mengubah cara mereka beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang baru.
Regina Septi Wanti Bere mengaku selama program berlangsung dirinya bertemu dengan peserta dari berbagai negara sehingga memberikan pengalaman sosial yang lebih luas.
“Kita dapat banyak pengalaman dan bertemu orang-orang baru. Tidak cuma dari Indonesia, tapi dari banyak negara lain. Jadi kita belajar bagaimana berkomunikasi dan memahami budaya yang berbeda,” katanya.
Pengalaman tersebut juga berdampak pada kemampuan bahasa para peserta. Mereka mengaku kemampuan berbahasa Jepang meningkat setelah digunakan secara langsung selama tinggal di negara tersebut.
Salah satu peserta menjelaskan, saat pertama datang ke Jepang mereka hanya memahami kosakata dasar untuk kebutuhan sehari-hari.
“Tapi setelah tinggal di sana, kami belajar bahasa formal dan juga belajar dialek-dialek yang digunakan masyarakat setempat,” ujarnya.
Ia menambahkan, wilayah tempat mereka menjalani program menggunakan dialek Kansai yang memiliki karakter berbeda dibanding bahasa Jepang standar.
“Kalau di Indonesia kita punya bahasa daerah seperti Jawa, di Jepang juga ada. Di tempat kami banyak menggunakan dialek Kansai, jadi itu pengalaman baru untuk dipelajari,” katanya.
Setelah kembali ke Indonesia dan melanjutkan aktivitas di kampus, para mahasiswi berharap pengalaman tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk berani mengikuti program internasional.
Mereka menilai pengalaman belajar dan bekerja di luar negeri bukan hanya tentang akademik, tetapi juga membangun kedisiplinan, kemandirian, serta kesiapan menghadapi dunia kerja global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....