AITF UB-Komdigi, Hasilkan Solusi AI untuk Bansos dan Sekolah Rakyat

  • 08 Jun 2026 15:46 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Program AI Talent Factory (AITF) hasil kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dengan Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan perkembangan signifikan. Pada pelaksanaan batch kedua tahun 2026, para peserta berhasil mengembangkan solusi kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab dua persoalan strategis nasional, yakni penguatan pembelajaran di Sekolah Rakyat dan peningkatan akurasi penyaluran bantuan sosial (bansos).

Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kementerian Komdigi, Said Mirza Pahlevi mengatakan, kedua hal tersebut menjadi fokus utama AITF karena berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat.

“Tahun ini di Universitas Brawijaya, khususnya batch kedua, peserta menyelesaikan use case yang sangat penting terkait pelayanan masyarakat, yaitu Sekolah Rakyat dan bantuan sosial. Solusi ini sangat ditunggu karena memiliki dampak yang luas bagi masyarakat,” ujarnya saat Workshop 3 AITF di UB, Senin (8/6/2026).

Menurut Mirza, solusi AI yang sedang dikembangkan bahkan telah menjadi pembahasan di tingkat kementerian dan berpotensi menjadi cikal bakal implementasi teknologi AI untuk program pemerintah di masa mendatang.

“Solusi AI untuk bansos sudah menjadi pembicaraan di tingkat menteri. Karena itu, hasil yang dikembangkan dalam AITF ini berpotensi diangkat ke level nasional untuk dikembangkan lebih lanjut,” katanya.

Workshop ketiga AITF menjadi tahap evaluasi progres pengembangan solusi AI yang ditargetkan telah mencapai sekitar 90 persen sebelum memasuki tahap final pada akhir Juni 2026. Untuk memaksimalkan penyelesaian proyek, peserta juga akan mengikuti sesi konsinyering selama beberapa hari menjelang demo day dan graduation day yang dijadwalkan berlangsung pada 29-30 Juni mendatang.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menjelaskan bahwa solusi AI untuk Sekolah Rakyat dirancang untuk membantu proses pembelajaran sekaligus mendukung pemetaan kondisi sosial masyarakat.

“Use case pertama adalah Sekolah Rakyat, di mana AI membantu mempermudah proses pembelajaran. Selain itu, ada juga pengembangan sistem yang mendukung pemetaan kemiskinan sebagai bagian dari upaya mendukung program bantuan sosial,” jelasnya.

Pada sektor pendidikan, teknologi AI dikembangkan untuk membantu guru mengelola materi pembelajaran secara lebih efektif. Sistem dapat membuat ringkasan materi, menyusun kartu belajar, menghasilkan soal secara otomatis, hingga membantu memantau perkembangan belajar dan kondisi emosional siswa.

“AI dapat membantu guru ketika sudah memiliki materi pembelajaran. Sistem bisa membuat ringkasan, menyusun bahan ajar, membuat soal, hingga membantu melakukan profiling terhadap capaian pembelajaran dan kondisi emosional siswa,” tutur Sabriansyah.

Sementara itu, pada program bansos, teknologi AI diarahkan untuk mendukung pemetaan kemiskinan yang lebih akurat sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan dan penyaluran bantuan yang lebih tepat sasaran.

Menurut Sabriansyah, salah satu keunggulan program AITF adalah pengembangan model AI yang dirancang secara spesifik untuk menyelesaikan persoalan tertentu, berbeda dengan model AI generatif umum yang digunakan secara luas saat ini.

“Kami ingin membangun kemandirian AI di tingkat nasional. Model yang dikembangkan memang dibuat khusus untuk menyelesaikan masalah tertentu, seperti Sekolah Rakyat, bantuan sosial, maupun kasus-kasus lain yang menjadi kebutuhan pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa model AI untuk Sekolah Rakyat saat ini masih dikembangkan menggunakan data yang tersedia di lingkungan Sekolah Rakyat Malang. Namun, untuk implementasi yang lebih luas, diperlukan kajian dan pengujian lanjutan agar sistem dapat digunakan secara nasional.

Selain dua proyek terbaru tersebut, AITF sebelumnya juga menghasilkan model AI untuk mendeteksi pola situs judi online. Model yang dikembangkan pada batch pertama telah diluncurkan melalui platform Hugging Face dan saat ini tengah diproses untuk implementasi lebih lanjut oleh pemerintah.

“Kami mempelajari karakteristik domain dan situs yang terindikasi judi online, kemudian mengembangkan model AI yang mampu mengenali pola-pola tersebut untuk membantu proses penyaringan,” ungkapnya.

Melalui rangkaian pengembangan tersebut, AITF diharapkan tidak hanya menghasilkan talenta digital baru, tetapi juga melahirkan solusi teknologi yang dapat dimanfaatkan pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan sosial, pendidikan, dan pelayanan publik di Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....