UB Tegaskan AI Bukan Pengganti Nalar Mahasiswa, Etika Jadi Kunci Utama

  • 04 Jun 2026 15:33 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di lingkungan perguruan tinggi terus berkembang. Namun, Universitas Brawijaya (UB) menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.

Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) Universitas Brawijaya, Dr. Raden Arief Setyawan, mengatakan penggunaan AI dalam dunia pendidikan saat ini tidak dapat dihindari. Karena itu, aspek etika menjadi fondasi utama dalam pemanfaatannya.

"AI itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Jadi kita tidak mungkin bisa menolak hal itu. Tetapi yang paling penting adalah di dalam pendidikan itu yang ditekankan adalah etika," ujarnya dalam program Malang Menyapa, Rabu , 3 Juni 2026.

Menurut Arief, mahasiswa boleh memanfaatkan AI untuk membantu proses belajar, mencari referensi, hingga melakukan brainstorming. Namun, tanggung jawab akademik tetap berada pada mahasiswa sebagai penulis dan pemilik karya.

"Kalau kita menggunakan AI, kita harus jujur bahwa kita dibantu AI. Termasuk untuk publikasi, untuk riset dan sebagainya," kata pria yang juga aktif di AI Center Universitas Brawijaya ini.

Ia menegaskan, mahasiswa tidak boleh menyerahkan seluruh proses pengerjaan tugas kepada AI. Sebab, tujuan pendidikan adalah mengukur kemampuan mahasiswa, bukan kemampuan teknologi yang digunakan.

"AI adalah alat untuk membantu mahasiswa di dalam membuat sebuah tugas, tetapi penanggung jawabnya adalah mahasiswa tersebut," tegasnya.

Untuk menjaga integritas akademik, UB mendorong perubahan metode evaluasi pembelajaran. Menurutnya, penilaian tidak cukup hanya melalui tugas tertulis, tetapi juga melalui presentasi dan ujian lisan.

"Pada saat mahasiswa presentasi, ditanya secara lisan, kemudian menjelaskan secara langsung, di situlah akan terlihat kemampuan sebenarnya dari mahasiswa tersebut," ucap Arief.

Ia menambahkan, kemampuan berpikir kritis harus tetap diasah meski AI semakin mudah diakses. Kampus pun terus memperkuat literasi etika digital agar pemanfaatan AI tetap bertanggung jawab dan tidak menggerus kualitas pembelajaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....