UB Resmikan FSTeM, Fakultas Sains Teknologi dan Matematika Pertama di Indonesia
- 20 Mei 2026 15:47 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Brawijaya (UB) resmi mengubah nama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM). Transformasi tersebut menjadikan UB sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menghadirkan fakultas dengan konsep Science, Technology, and Mathematics (STeM).
Ketua Senat FSTeM UB, Prof. Sasmito Djati mengatakan, perubahan nama tersebut merupakan respons terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perubahan era digital dan komputasi telah mengubah cara masyarakat hidup, bekerja, hingga mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Beberapa tahun terakhir kita melihat perubahan yang sangat cepat pada era knowledge dan teknologi. Perubahan itu memengaruhi kultur dan budaya masyarakat, sehingga kami sebagai ilmu dasar harus menyiapkan diri menghadapi perubahan zaman,” kata Prof. Sasmito, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, proses perubahan nama fakultas telah dipersiapkan selama tiga tahun. Transformasi tersebut bukan berarti meninggalkan identitas lama FMIPA, melainkan memperluas peran ilmu dasar agar lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Selama ini disiplin ilmu seperti matematika, biologi, kimia, dan fisika kerap dipandang berjalan sendiri-sendiri. Namun di era komputasi dan teknologi digital, batas antarbidang ilmu semakin terbuka dan saling terintegrasi. Karena itu kami harus menjawab tantangan tersebut dengan mengubah nama fakultas tanpa meninggalkan identitas sebelumnya,” ujarnya.
Melalui konsep FSTeM, UB ingin membangun paradigma ilmu pengetahuan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan masyarakat. Meski demikian, ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi tetap menjadi fondasi utama pengembangan fakultas.
“Kami tetap tidak meninggalkan matematika, biologi, kimia, dan fisika karena itu dasar dari semua ilmu pengetahuan. Namun arahnya adalah membangun masyarakat yang knowledge driven dan kontekstual,” tambahnya.
Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto menegaskan bahwa perubahan nama justru memperbesar ruang pengembangan FMIPA, terutama untuk mengakomodasi program studi baru yang berkembang di era digital dan data science.
“Perubahan nama ini kami anggap membuat MIPA semakin besar karena dapat mewadahi prodi-prodi baru seperti bioinformatika, sains data, dan aktuaria,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan nama STeM menjadi bentuk perluasan paradigma keilmuan tanpa meninggalkan jati diri ilmu dasar.
Ketua Senat FSTeM UB, Prof. Sasmito Djati mengatakan, perubahan nama tersebut merupakan respons terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perubahan era digital dan komputasi telah mengubah cara masyarakat hidup, bekerja, hingga mengembangkan ilmu pengetahuan.
“Beberapa tahun terakhir kita melihat perubahan yang sangat cepat pada era knowledge dan teknologi. Perubahan itu memengaruhi kultur dan budaya masyarakat, sehingga kami sebagai ilmu dasar harus menyiapkan diri menghadapi perubahan zaman,” kata Prof. Sasmito, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, proses perubahan nama fakultas telah dipersiapkan selama tiga tahun. Transformasi tersebut bukan berarti meninggalkan identitas lama FMIPA, melainkan memperluas peran ilmu dasar agar lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Selama ini disiplin ilmu seperti matematika, biologi, kimia, dan fisika kerap dipandang berjalan sendiri-sendiri. Namun di era komputasi dan teknologi digital, batas antarbidang ilmu semakin terbuka dan saling terintegrasi. Karena itu kami harus menjawab tantangan tersebut dengan mengubah nama fakultas tanpa meninggalkan identitas sebelumnya,” ujarnya.
Melalui konsep FSTeM, UB ingin membangun paradigma ilmu pengetahuan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan masyarakat. Meski demikian, ilmu dasar seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi tetap menjadi fondasi utama pengembangan fakultas.
“Kami tetap tidak meninggalkan matematika, biologi, kimia, dan fisika karena itu dasar dari semua ilmu pengetahuan. Namun arahnya adalah membangun masyarakat yang knowledge driven dan kontekstual,” tambahnya.
Dekan FSTeM UB, Prof. Sukir Maryanto menegaskan bahwa perubahan nama justru memperbesar ruang pengembangan FMIPA, terutama untuk mengakomodasi program studi baru yang berkembang di era digital dan data science.
“Perubahan nama ini kami anggap membuat MIPA semakin besar karena dapat mewadahi prodi-prodi baru seperti bioinformatika, sains data, dan aktuaria,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaan nama STeM menjadi bentuk perluasan paradigma keilmuan tanpa meninggalkan jati diri ilmu dasar.
“Dengan wadah yang lebih luas, peluang pengembangan program studi maupun riset dinilai semakin terbuka,” tutur guru besar Teknik Geofisika UB ini.
Prof. Sukir menambahkan, FSTeM UB ditargetkan menjadi pusat gravitasi perkembangan sains, teknologi, dan matematika di Indonesia. Sebagai fakultas STeM pertama di Indonesia, UB ingin menjadi pionir dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Fakultas ini ditargetkan menjadi pusat gravitasi perkembangan sains, teknologi, dan matematika di Indonesia. Kami ingin menjadi pionir dalam wadah yang lebih luas dan berdampak ke masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, FSTeM UB juga membuka peluang pengembangan berbagai program studi baru, seperti teknologi material hingga geosains. Saat ini, FSTeM UB memiliki 19 program studi yang terdiri atas 10 program sarjana (S1), lima program magister (S2), dan empat program doktor (S3).
“Perkembangan teknologi terbaru tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan ilmu dasar yang kuat. Karena itu, FSTeM hadir untuk menjawab tantangan masa depan melalui integrasi ilmu sains, matematika, dan teknologi secara lebih adaptif dan inovatif,” tandasnya.
Prof. Sukir menambahkan, FSTeM UB ditargetkan menjadi pusat gravitasi perkembangan sains, teknologi, dan matematika di Indonesia. Sebagai fakultas STeM pertama di Indonesia, UB ingin menjadi pionir dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Fakultas ini ditargetkan menjadi pusat gravitasi perkembangan sains, teknologi, dan matematika di Indonesia. Kami ingin menjadi pionir dalam wadah yang lebih luas dan berdampak ke masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, FSTeM UB juga membuka peluang pengembangan berbagai program studi baru, seperti teknologi material hingga geosains. Saat ini, FSTeM UB memiliki 19 program studi yang terdiri atas 10 program sarjana (S1), lima program magister (S2), dan empat program doktor (S3).
“Perkembangan teknologi terbaru tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan ilmu dasar yang kuat. Karena itu, FSTeM hadir untuk menjawab tantangan masa depan melalui integrasi ilmu sains, matematika, dan teknologi secara lebih adaptif dan inovatif,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....