Tekanan Akademik Picu Gangguan Mental Pelajar dan Mahasiswa

  • 18 Mei 2026 12:47 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kegagalan akademik masih menjadi momok bagi pelajar maupun mahasiswa. Nilai yang tidak sesuai harapan, revisi berulang, hingga keterlambatan lulus kerap memicu tekanan mental yang serius.

Dalam talkshow Jaga Malam Mental Health, mentor Castle Rock, Laura Citra Widiyanti dan Harvi Wahyu Putriadi menilai tekanan tersebut muncul karena masyarakat sejak lama menempatkan prestasi akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan seseorang.

“Masayarakat kita selalu memberikan apresiasi atau pujian kepada mereka yang berhasil, sedang kegagalan seorang anak dianggap hal yang memalukan. Sehingga dari dulu anak dituntut untuk mendapat juara dan menyenangkan orang sekitar,” ujar Harvi, Senin (18/5/2026).

Menurut Harvi, pola pikir tersebut membuat banyak anak dan mahasiswa takut gagal karena merasa harga diri mereka dipertaruhkan. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa mengalami stres berat ketika menghadapi revisi yang berulang atau hasil akademik yang tidak sesuai ekspektasi.

Sementara itu, Laura menambahkan media sosial turut memperbesar tekanan psikologis pada mahasiswa. Banyak orang cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.

“Sosial media ini sebenarnya juga turut memperparah tekanan tersebut. Mahasiswa cenderung membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain yang terlihat sempurna. Padahal media sosial ini menciptakan standar sukses yang semu,” kata Laura.

Laura menjelaskan, terdapat sejumlah tanda kegagalan akademik yang mulai memengaruhi kesehatan mental seseorang. Di antaranya rasa cemas berlebihan, sulit fokus, menarik diri dari lingkungan sosial, insomnia, hingga burnout berkepanjangan.

Karena itu, Harvi menyarankan mahasiswa untuk melakukan self-validation ketika mengalami kegagalan akademik. Menurutnya, rasa kecewa merupakan hal yang wajar dan manusiawi.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak pada tuntutan kesempurnaan. Fokus utama seharusnya bukan menjadi sempurna, melainkan menyelesaikan proses secara bertahap dan konsisten.

Dengan dukungan lingkungan serta pola pikir yang sehat, mahasiswa diharapkan mampu menghadapi tekanan akademik tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....