UM Jadi Basis Kolaborasi ISTIC UNESCO, Dorong Riset Global Berbasis Kearifan Lokal

  • 07 Mei 2026 14:33 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Universitas Negeri Malang (UM) memperkuat posisinya dalam jejaring sains internasional setelah resmi menjadi tuan rumah cabang International Science, Technology and Innovation Centre for South-South Cooperation (ISTIC) di bawah naungan UNESCO. Langkah ini dinilai strategis dalam mendorong pengembangan riset dan kebijakan sains berbasis perspektif negara-negara Global South.

Kehadiran ISTIC di UM tidak sekadar memperluas kerja sama internasional, tetapi juga membuka ruang pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih kontekstual, inklusif, dan berpijak pada kearifan lokal.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa penguatan kolaborasi internasional perlu dibarengi dengan pendekatan ilmu pengetahuan yang terintegrasi dengan aspek sosial dan budaya.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari kebudayaan. Karena itu, pengembangannya harus berakar pada nilai dan perspektif yang utuh,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan ISTIC menjadi peluang bagi UM untuk memperkuat integrasi antara natural science, ilmu sosial, dan humaniora dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.

Chairman ISTIC, Prof. Dr. Mohd Baryaruddin Abdul Rahman, menilai UM memiliki kekuatan dalam membangun kolaborasi internasional yang adaptif dan progresif.

Ia menyebut pendekatan yang dikembangkan UM sejalan dengan visi ISTIC dalam memperkuat kapasitas negara-negara Selatan melalui pengembangan sains dan inovasi.

“Ada ribuan universitas di Indonesia, tetapi Malang menjadi mitra terbaik bagi kami, terutama dalam interaksi dan kerja sama,” katanya.

Ia menambahkan, fokus utama ISTIC bukan hanya pada pengembangan teknologi, tetapi juga menciptakan talenta yang mampu membangun kebijakan sains berdampak luas bagi masyarakat.

“Peranan utama ISTIC adalah menghasilkan talenta holistik, terutama dalam pembangunan
science policy yang memberi dampak nyata,” katanya.

Keberadaan pusat kolaborasi ini diharapkan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang relevan terhadap persoalan global, mulai dari pendidikan, keberlanjutan, hingga pengembangan masyarakat berbasis pengetahuan.

Selain memperluas jejaring akademik internasional, UM juga didorong menjadi pusat pengembangan inovasi yang mengangkat potensi lokal ke tingkat global.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat.

Langkah UM menjadi bagian dari jaringan ISTIC UNESCO sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi Indonesia dalam percaturan sains global, khususnya dalam memperkuat suara dan perspektif negara-negara berkembang di tingkat internasional.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....