Mahasiswa UM Borong Juara di Lomba Jembatan Nasional 2026
- 07 Mei 2026 11:44 WIB
- Malang
RI.CO.ID, Malang - Tim Program Studi S1 Teknik Sipil Universitas Negeri Malang (UM) berhasil meraih Juara Metode Perakitan Terbaik dan Juara 2 Umum dalam ajang Fondasi Steel Bridge Competition 2026 yang diselenggarakan Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Tim tersebut beranggotakan Mohammad Arinal Haq Gyanendra, Rizqie Muhammad Zulfan, dan Muhammad Iqbal Maulana. Mereka unggul dalam aspek desain, inovasi teknologi, hingga efisiensi perakitan jembatan.
Salah seorang anggota tim, Iqbal mengatakan, dalam proses perancangan, tim memanfaatkan perangkat lunak SAP2000 untuk analisis struktur dan preliminary design, serta Idea Statica guna mengoptimalkan kekakuan sambungan.
Inovasi lainnya berupa penggunaan thin film photovoltaics system sebagai sumber energi alternatif turut memperkuat aspek keberlanjutan pada rancangan jembatan tersebut. Saat tahap perakitan, strategi pembagian tugas yang terstruktur dan penerapan mitigasi risiko secara sistematis, mereka berhasil mencatat waktu perakitan tercepat dibanding finalis lainnya.
“Tim kami mampu menyelesaikan proses perakitan hanya dalam waktu 52 menit, jauh di bawah batas maksimal tiga jam yang ditentukan panitia. Sebelumnya, mereka juga rutin melakukan latihan perakitan dengan durasi rata-rata 40–50 menit,” ungkapnya.
Meski harus membagi waktu di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, tim tetap mampu menjaga fokus selama persiapan kompetisi.
“Kuncinya adalah meluangkan waktu, bukan mencari waktu,” ujar Iqbal.
Dosen pembimbing, Nur Latifah Khomsiati, S.T., M.T., mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kemampuan dan semangat kompetitif mahasiswa.
“Kemampuan mereka sebenarnya sudah sangat baik, saya hanya memberikan arahan dan validasi,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan sebagai sarana pengembangan kompetensi dan pengalaman.
“Jangan sampai empat tahun kuliah hanya fokus pada materi di kelas,” tambahnya.
Tim tersebut beranggotakan Mohammad Arinal Haq Gyanendra, Rizqie Muhammad Zulfan, dan Muhammad Iqbal Maulana. Mereka unggul dalam aspek desain, inovasi teknologi, hingga efisiensi perakitan jembatan.
Salah seorang anggota tim, Iqbal mengatakan, dalam proses perancangan, tim memanfaatkan perangkat lunak SAP2000 untuk analisis struktur dan preliminary design, serta Idea Statica guna mengoptimalkan kekakuan sambungan.
“Pendekatan berbasis teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi desain sekaligus menghasilkan struktur jembatan yang lebih optimal,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, tim juga menerapkan Building Information Modeling (BIM) hingga level 5D untuk mempermudah pemodelan detail, perhitungan volume material, serta penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara otomatis dan akurat.
Tak hanya unggul secara teknis, inovasi yang diusung tim juga mengedepankan konsep keberlanjutan melalui tema sustainable and regenerative future. Mereka mengembangkan smart self-healing coating system yang mampu memperbaiki kerusakan secara mandiri, serta memanfaatkan steel slag asphalt mixture sebagai bentuk pemanfaatan limbah industri.
“Pada aspek pemantauan struktur, kami mengimplementasikan Structure Health Monitoring System (SHMS) berbasis Distributed Fiber Optic Sensing (DFOS) untuk memastikan kondisi jembatan dapat dipantau secara presisi,”
Selain itu, tim juga menerapkan Building Information Modeling (BIM) hingga level 5D untuk mempermudah pemodelan detail, perhitungan volume material, serta penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara otomatis dan akurat.
Tak hanya unggul secara teknis, inovasi yang diusung tim juga mengedepankan konsep keberlanjutan melalui tema sustainable and regenerative future. Mereka mengembangkan smart self-healing coating system yang mampu memperbaiki kerusakan secara mandiri, serta memanfaatkan steel slag asphalt mixture sebagai bentuk pemanfaatan limbah industri.
“Pada aspek pemantauan struktur, kami mengimplementasikan Structure Health Monitoring System (SHMS) berbasis Distributed Fiber Optic Sensing (DFOS) untuk memastikan kondisi jembatan dapat dipantau secara presisi,”
katanya.
“Teknologi digital twin dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data real-time,” imbuhnya.
Inovasi lainnya berupa penggunaan thin film photovoltaics system sebagai sumber energi alternatif turut memperkuat aspek keberlanjutan pada rancangan jembatan tersebut. Saat tahap perakitan, strategi pembagian tugas yang terstruktur dan penerapan mitigasi risiko secara sistematis, mereka berhasil mencatat waktu perakitan tercepat dibanding finalis lainnya.
“Tim kami mampu menyelesaikan proses perakitan hanya dalam waktu 52 menit, jauh di bawah batas maksimal tiga jam yang ditentukan panitia. Sebelumnya, mereka juga rutin melakukan latihan perakitan dengan durasi rata-rata 40–50 menit,” ungkapnya.
Meski harus membagi waktu di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi, tim tetap mampu menjaga fokus selama persiapan kompetisi.
“Kuncinya adalah meluangkan waktu, bukan mencari waktu,” ujar Iqbal.
Dosen pembimbing, Nur Latifah Khomsiati, S.T., M.T., mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kemampuan dan semangat kompetitif mahasiswa.
“Kemampuan mereka sebenarnya sudah sangat baik, saya hanya memberikan arahan dan validasi,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan di luar perkuliahan sebagai sarana pengembangan kompetensi dan pengalaman.
“Jangan sampai empat tahun kuliah hanya fokus pada materi di kelas,” tambahnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....