FISIP UB Perkuat Diplomasi Budaya dan Akademik di Vietnam
- 03 Mei 2026 06:32 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) memperkuat diplomasi budaya sekaligus kerja sama akademik internasional melalui rangkaian kegiatan di Ho Chi Minh City Open University (HCMCOU), Vietnam.
Kegiatan tersebut meliputi workshop budaya, kuliah tamu, hingga kolaborasi pengajaran sebagai upaya memperluas jejaring global dan mempererat hubungan antar institusi.
Pada hari pertama, FISIP UB menggelar Workshop Topeng Malangan yang diikuti sekitar 60 mahasiswa HCMCOU. Kegiatan ini menjadi sarana diplomasi budaya dengan memperkenalkan warisan seni Indonesia sekaligus membangun interaksi lintas budaya.
Workshop dipandu oleh dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Ika Rizky Yustisia, S.I.Kom., M.A. Selain mengenalkan sejarah Topeng Malangan, peserta juga diajak memahami nilai filosofis serta mempraktikkan langsung proses melukis topeng.
Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB, Reza Safitri, S.Sos., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi diplomasi budaya yang terintegrasi dalam kerja sama internasional.
“Workshop ini menjadi bentuk nyata diplomasi kebudayaan yang kami bawa dalam setiap kolaborasi global,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan serupa tidak hanya berhenti pada pengenalan budaya, tetapi berkembang menjadi kolaborasi akademik yang lebih luas, termasuk dalam bidang pelestarian dan pemberdayaan budaya.
Memasuki hari kedua, FISIP UB menggelar kuliah tamu dan diskusi bertema penguatan peran strategis Asia Tenggara. Kegiatan ini membuka ruang dialog akademik terkait dinamika kawasan dan peluang kerja sama regional.
Dosen Hubungan Internasional FISIP UB, Dr. Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, Ph.D., menekankan pentingnya konektivitas antarnegara di Asia Tenggara, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga hubungan antarmasyarakat dan pertukaran budaya.
Ia juga memperkenalkan sejumlah program internasional FISIP UB, seperti Brawijaya International Student Mobility Award (BISMA) dan Brawijaya Academic Student Immersion Program (BASIS), yang menjadi sarana memperkuat jejaring global mahasiswa.
Selain itu, ia menyoroti hubungan erat Indonesia dan Vietnam, termasuk dalam sektor perdagangan dan konektivitas pelabuhan, yang turut memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
“Penguatan kajian Asia Tenggara penting untuk memahami posisi strategis kawasan dalam mendukung ketahanan ekonomi global serta membangun diplomasi yang inklusif,” jelasnya.
Pada hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan kolaborasi pengajaran dalam kelas Bahasa dan Budaya Indonesia bagi mahasiswa Program Studi Kajian Asia Tenggara HCMCOU.
Sesi ini dipimpin oleh Reza Safitri bersama tim dosen FISIP UB. Mahasiswa yang telah mempelajari Bahasa Indonesia mendapatkan pendalaman materi yang tidak hanya mencakup aspek bahasa, tetapi juga konteks sosial dan budaya.
“Pembelajaran kolaboratif ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga membangun pemahaman lintas budaya. Bahasa menjadi pintu masuk untuk memahami identitas dan dinamika sosial suatu bangsa,” ujar Reza.
Rangkaian kegiatan ini dinilai tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan antara FISIP UB dan HCMCOU, tetapi juga membuka peluang kerja sama lebih luas, mulai dari pertukaran mahasiswa, riset bersama, hingga pengembangan kurikulum internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....