Janggelan Naik Kelas: dari Tanaman Tradisional menuju Industri Kesehatan

  • 24 Apr 2026 12:02 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Selama ini janggelan lebih dikenal sebagai bahan baku cincau hitam. Namun di balik kesederhanaannya, tanaman ini menyimpan potensi besar di bidang kesehatan dan ekonomi.

Di Kabupaten Ponorogo, khususnya Kecamatan Ngrayun, janggelan tumbuh subur dan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur menyebutkan, janggelan dari wilayah tersebut memiliki kualitas unggulan dengan kandungan serat terbaik kedua di dunia serta mampu bersaing di pasar global.

Secara ilmiah, tanaman bernama latin Platostoma palustre ini mengandung berbagai senyawa penting, seperti flavonoid, polisakarida, dan antioksidan. Kandungan tersebut membuka peluang pemanfaatan janggelan dalam bidang kesehatan, pangan fungsional, hingga industri farmasi.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, Naufal Wima Al Fahri, menilai potensi janggelan masih belum dimanfaatkan secara optimal.

“Janggelan tidak hanya sebatas bahan cincau, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pangan fungsional dan bahan baku industri kesehatan berbasis lokal,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Sejumlah penelitian menunjukkan janggelan memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang berperan dalam menangkal radikal bebas, yang berkaitan dengan berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, hingga kanker. Bahkan, studi laboratorium awal juga mengindikasikan potensi janggelan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker.

Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini membuka peluang pengembangan produk kesehatan berbasis bahan alami.

Dari sisi ekonomi, prospek janggelan juga menjanjikan. Permintaan global, terutama dari China, tergolong tinggi, sementara kapasitas produksi masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan peluang pasar yang besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

Di tingkat petani, janggelan umumnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan harga relatif rendah. Minimnya inovasi pengolahan menjadi salah satu kendala utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas ini.

Naufal menekankan pentingnya pendekatan bioprospeksi untuk mengembangkan janggelan menjadi produk bernilai tinggi.

“Jika diolah dengan baik, janggelan bisa dikembangkan menjadi teh herbal, suplemen kesehatan, hingga komoditas ekspor,” jelasnya.

Selain itu, janggelan memiliki keunggulan adaptasi karena mampu tumbuh di berbagai kondisi lingkungan, termasuk lahan marginal. Hal ini membuka peluang pemanfaatan lahan kurang produktif menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Dengan dukungan riset dan inovasi, janggelan berpotensi naik kelas dari tanaman tradisional menjadi komoditas unggulan yang tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga menjawab tren gaya hidup sehat.

Tanaman sederhana ini menjadi bukti bahwa potensi besar bisa datang dari hal yang selama ini dianggap biasa.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....