Dari Algoritma ke Kain Tradisi, Dosen UMM Hidupkan Kembali Batik Nitik lewat AI

  • 30 Mar 2026 09:37 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Di balik layar komputer, deretan kode dan algoritma menenun motif-motif batik. Bukan dengan canting atau malam, melainkan lewat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, terlahir ratusan desain batik. Adalah Dr. Ir. Agus Eko Minarno, M.Kom., IPM., dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang mencoba menjembatani teknologi modern dan warisan budaya berupa batik.


Inovasi ini muncul dari kegelisahan melihat motif batik tradisional yang mulai kalah bersaing dengan desain kontemporer, Agus memanfaatkan teknologi Generative Adversarial Network (GAN) untuk “mengajari” komputer mengenali pola batik, lalu menciptakan motif baru yang tetap berakar pada tradisi.

“Batik itu tidak boleh berhenti berkembang. Tapi di sisi lain, nilai tradisinya juga harus tetap dijaga,” katanya, Senin (30/3/2026).

Pilihan Agus jatuh pada motif Nitik, salah satu corak batik klasik dengan pola geometris khas. Di tangannya, motif yang selama ini dianggap stagnan itu perlahan menemukan wajah baru.

Bersama Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad, Agus mengumpulkan ratusan gambar batik Nitik untuk dijadikan “bahan belajar” bagi sistem AI. Total, ada 960 citra dalam 60 kategori yang digunakan untuk melatih model tersebut.

Bagi Agus, teknologi ini bukan untuk menggantikan manusia, melainkan menjadi alat bantu. Ia membayangkan para pengrajin batik, khususnya pelaku UMKM, dapat memanfaatkan hasil desain AI sebagai inspirasi baru.

“Harapannya, pengrajin tetap menjadi aktor utama. AI ini hanya membuka kemungkinan-kemungkinan baru,” katanya.

Di tengah tantangan industri batik yang kerap dihadapkan pada desain yang berulang, inovasi ini menjadi angin segar. Motif yang lebih variatif diharapkan mampu meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual produk. Lebih dari itu, Agus percaya bahwa teknologi bisa menjadi jembatan untuk menjaga tradisi tetap hidup di era digital.

“Kalau motif berkembang, pasar juga terbuka. Pada akhirnya, kesejahteraan pengrajin ikut meningkat,” ujarnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....