Mahasiswa UMM Kenalkan Budidaya Bioflok, Solusi Lahan Terbatas di Desa Kebobang

  • 27 Mar 2026 08:08 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Keterbatasan lahan tidak lagi menjadi hambatan bagi warga Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, untuk mengembangkan budidaya perikanan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkenalkan budidaya ikan nila berbasis sistem bioflok menggunakan kolam terpal.

Program yang berlangsung selama 24 Januari hingga 22 Februari 2026 ini tidak hanya menghadirkan kolam percontohan, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan teknis budidaya untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus peluang ekonomi.

Dosen Pembina Lapangan, Festy Putri Ramadhani menyebut, program ini dirancang agar dapat berkelanjutan dan diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami mendorong mahasiswa menghadirkan solusi yang mudah diterapkan. Budidaya ikan nila dengan kolam terpal dipilih karena sesuai dengan kondisi lahan warga dan tidak membutuhkan biaya besar,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas disiplin yang bekerja sama dengan sekitar 20 hingga 25 warga, mulai dari petani, pemuda karang taruna, hingga ibu rumah tangga. Kolaborasi tersebut dinilai mempermudah transfer pengetahuan, mulai dari aspek teknis hingga pemasaran.

Budidaya dilakukan dengan sistem bioflok, yakni metode yang memanfaatkan bakteri untuk mengolah limbah pakan menjadi sumber nutrisi tambahan sekaligus menjaga kualitas air. Sistem ini memungkinkan kepadatan ikan lebih tinggi tanpa pergantian air secara rutin, sehingga lebih efisien dan ramah lingkungan.

Kolam percontohan yang dibangun berdiameter dua meter dengan tinggi satu meter, diisi 1.000 benih ikan nila ukuran 5–7 cm. Pengelolaan dilakukan secara terjadwal, mulai dari pemberian pakan hingga pemantauan kualitas air.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman warga yang cukup signifikan, dari skor rata-rata 55 menjadi 85 setelah mengikuti pelatihan.

“Fokus kami bukan hanya membangun kolam, tetapi memastikan masyarakat mampu mengelola budidaya ini secara mandiri setelah program selesai,” kata Festy.

Selama pelaksanaan, mahasiswa juga melakukan pendampingan rutin untuk membantu warga menghadapi kendala teknis, seperti perubahan cuaca dan stabilitas air. Meski masa panen belum sepenuhnya tercapai, pertumbuhan ikan menunjukkan hasil positif dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.

Program ini dinilai berpotensi menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan protein sekaligus menambah pendapatan warga. Ke depan, tim KKN merekomendasikan pengembangan melalui penambahan kolam, pembentukan kelompok budidaya, serta dukungan dari pemerintah desa.

“Model ini diharapkan dapat terus dikembangkan, tidak hanya di Desa Kebobang tetapi juga di wilayah lain dengan kondisi serupa,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....