Mahasiswa FK UB Ikuti Program Pertukaran Penelitian Internasional
- 17 Mar 2026 10:15 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menunjukkan kiprah di tingkat global melalui program Research Exchange yang difasilitasi oleh Medical Students’ Committee for International Affairs (MSCIA) UB. Program ini terselenggara melalui kerja sama dengan jaringan internasional IFMSA SCORE (Standing Committee on Research Exchange).
Program tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran untuk mengikuti kegiatan riset di berbagai institusi luar negeri selama kurang lebih satu bulan, dengan bimbingan dosen atau peneliti di universitas tujuan.
Pada tahun 2025, mahasiswa FK UB mengikuti outbound research exchange ke sejumlah negara, seperti Rumania, Portugal, dan Mesir. Empat mahasiswa yang berpartisipasi yakni Jefta Amaziabel Simamora, Gracia Siregar, Jihan Tabina Salma, dan Jennifer Angelina Kotambunan.
Ketua MSCIA UB, Rhaina Chandra Mahira mengatakan, program ini berlangsung dalam beberapa gelombang setiap tahun.
Program tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran untuk mengikuti kegiatan riset di berbagai institusi luar negeri selama kurang lebih satu bulan, dengan bimbingan dosen atau peneliti di universitas tujuan.
Pada tahun 2025, mahasiswa FK UB mengikuti outbound research exchange ke sejumlah negara, seperti Rumania, Portugal, dan Mesir. Empat mahasiswa yang berpartisipasi yakni Jefta Amaziabel Simamora, Gracia Siregar, Jihan Tabina Salma, dan Jennifer Angelina Kotambunan.
Ketua MSCIA UB, Rhaina Chandra Mahira mengatakan, program ini berlangsung dalam beberapa gelombang setiap tahun.
“Perkiraan bulan Juli ada sekitar delapan mahasiswa yang berangkat, kemudian Agustus sekitar dua mahasiswa. Jumlahnya menyesuaikan kesempatan yang tersedia di negara tujuan,” katanya, Selasa (17/3/2026).
Selama program berlangsung, mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan penelitian di laboratorium, klinik, maupun rumah sakit pendidikan. Di Portugal, peserta menjalani riset di Gulbenkian Institute for Molecular Medicine (GIMM) dengan topik Synthetic Lethality in Cancer.
Selama program berlangsung, mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan penelitian di laboratorium, klinik, maupun rumah sakit pendidikan. Di Portugal, peserta menjalani riset di Gulbenkian Institute for Molecular Medicine (GIMM) dengan topik Synthetic Lethality in Cancer.
Sementara di Rumania, mahasiswa meneliti bidang gastroenterologi, hepatologi, hinggabMetabolic-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD), sekaligus mengamati prosedur klinis seperti endoskopi dan kolonoskopi. Adapun di Mesir, mahasiswa mengikuti penelitian di bidang oftalmologi, termasuk observasi tindakan medis seperti operasi katarak serta analisis data klinis.
Rhaina menjelaskan, program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat kemampuan riset sekaligus memperluas wawasan global di bidang kesehatan.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan riset serta adaptasi di lingkungan akademik internasional,” jelasnya.
Selain kegiatan akademik, peserta juga mengikuti program sosial dan pertukaran budaya bersama mahasiswa setempat, sehingga dapat mengenal budaya negara tujuan.
MSCIA UB yang berafiliasi dengan CIMSA Indonesia dan IFMSA turut mendampingi mahasiswa mulai dari proses seleksi, pembekalan sebelum keberangkatan, hingga monitoring selama program berlangsung.
Salah seorang peserta, Jihan Tabina Salma mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti research exchange di Benha University, Mesir. Ia berkesempatan mengamati langsung proses diagnosis, penanganan pasien, hingga operasi mata.
“Program ini membuka wawasan saya bahwa praktik kedokteran bisa berbeda di setiap negara. Selain keterampilan klinis, kemampuan beradaptasi dan komunikasi lintas budaya juga sangat penting,” ujarnya.
Melalui program ini, FK UB berharap mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan riset, berpikir kritis, serta memperluas jejaring internasional, sekaligus mendorong berkembangnya budaya penelitian di lingkungan kampus.
Rhaina menjelaskan, program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperkuat kemampuan riset sekaligus memperluas wawasan global di bidang kesehatan.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan riset serta adaptasi di lingkungan akademik internasional,” jelasnya.
Selain kegiatan akademik, peserta juga mengikuti program sosial dan pertukaran budaya bersama mahasiswa setempat, sehingga dapat mengenal budaya negara tujuan.
MSCIA UB yang berafiliasi dengan CIMSA Indonesia dan IFMSA turut mendampingi mahasiswa mulai dari proses seleksi, pembekalan sebelum keberangkatan, hingga monitoring selama program berlangsung.
Salah seorang peserta, Jihan Tabina Salma mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti research exchange di Benha University, Mesir. Ia berkesempatan mengamati langsung proses diagnosis, penanganan pasien, hingga operasi mata.
“Program ini membuka wawasan saya bahwa praktik kedokteran bisa berbeda di setiap negara. Selain keterampilan klinis, kemampuan beradaptasi dan komunikasi lintas budaya juga sangat penting,” ujarnya.
Melalui program ini, FK UB berharap mahasiswa dapat meningkatkan kemampuan riset, berpikir kritis, serta memperluas jejaring internasional, sekaligus mendorong berkembangnya budaya penelitian di lingkungan kampus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....