Mengenal Model NPRP untuk Peternakan Perah Tropis Berkelanjutan
- 10 Feb 2026 11:28 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN Eng, memperkenalkan Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) sebagai pendekatan inovatif untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan peternakan perah di wilayah tropis.
Menurut Prof. Mashudi, ternak ruminansia seperti sapi perah dan kambing perah memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani melalui produksi susu, sekaligus menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak rakyat. Namun, hingga kini produksi susu nasional baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan, sementara 80 persen masih bergantung pada impor.
“Sekitar 90 persen produksi susu nasional berasal dari peternakan rakyat. Ini potensi besar, tetapi masih menghadapi tantangan produktivitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rendahnya produksi susu nasional tidak terlepas dari kondisi lingkungan tropis Indonesia. Sapi perah yang dikembangkan di Indonesia umumnya berasal dari daerah beriklim sedang, seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru, yang memiliki suhu sejuk serta kualitas hijauan tinggi. Ketika dipelihara di Indonesia yang bersuhu panas dan lembap dengan kualitas hijauan yang lebih rendah, produktivitas sapi perah menurun signifikan.
“Di negara asalnya, produksi susu bisa mencapai 25 liter per ekor per hari. Di Indonesia, rata-rata hanya sekitar 10–12 liter,” jelasnya.
Selama ini, pendekatan nutrisi sapi perah di Indonesia masih didominasi paradigma protein kuantitatif, yakni meningkatkan kadar protein kasar (PK) pakan untuk mendongkrak produksi susu. Namun, pendekatan ini dinilai tidak lagi efisien.
“Protein pakan banyak terdegradasi di rumen menjadi amonia. Jika tidak didukung energi fermentabel yang cukup, amonia akan terbuang sebagai urea melalui urin. Ini bukan hanya boros biaya, tetapi juga berdampak pada lingkungan,” paparnya.
Model NPRP hadir sebagai solusi dengan menempatkan rumen sebagai pabrik biologis secara presisi. Pendekatan ini tidak berfokus pada peningkatan jumlah protein, melainkan proteksi selektif protein dan asam amino esensial pembatas, khususnya lisin dan metionin, agar dapat lolos dari degradasi rumen dan diserap secara optimal di usus halus.
Kebaruan NPRP terletak pada integrasi nutrisi presisi dengan fisiologi rumen serta kesesuaian dengan sistem peternakan tropis lokal. Proteksi protein dan asam amino dilakukan menggunakan senyawa herbal kondens tanin yang banyak tersedia di sekitar lingkungan peternak, sehingga lebih aplikatif dan berkelanjutan.
“Dengan model ini, diharapkan produksi dan kualitas susu meningkat, emisi amonia dari urin menurun, serta sistem peternakan menjadi lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Secara keseluruhan, Prof. Mashudi menegaskan bahwa Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) berpotensi menjadi fondasi pengembangan peternakan perah tropis yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional berbasis susu.
Prof. Mashudi dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke-21 Fakultas Peternakan, ke-256 Universitas Brawijaya, serta Profesor ke-448 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB. Pengkuhan pada Rabu (11/2/2026) besok ini dalam Bidang Ilmu Teknologi Pakan Ternak Ruminansia, dengan fokus pada proteksi protein dan asam amino berbasis kondens tanin untuk sistem peternakan perah tropis.
Menurut Prof. Mashudi, ternak ruminansia seperti sapi perah dan kambing perah memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani melalui produksi susu, sekaligus menjadi sumber pendapatan utama bagi peternak rakyat. Namun, hingga kini produksi susu nasional baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan, sementara 80 persen masih bergantung pada impor.
“Sekitar 90 persen produksi susu nasional berasal dari peternakan rakyat. Ini potensi besar, tetapi masih menghadapi tantangan produktivitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rendahnya produksi susu nasional tidak terlepas dari kondisi lingkungan tropis Indonesia. Sapi perah yang dikembangkan di Indonesia umumnya berasal dari daerah beriklim sedang, seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru, yang memiliki suhu sejuk serta kualitas hijauan tinggi. Ketika dipelihara di Indonesia yang bersuhu panas dan lembap dengan kualitas hijauan yang lebih rendah, produktivitas sapi perah menurun signifikan.
“Di negara asalnya, produksi susu bisa mencapai 25 liter per ekor per hari. Di Indonesia, rata-rata hanya sekitar 10–12 liter,” jelasnya.
Selama ini, pendekatan nutrisi sapi perah di Indonesia masih didominasi paradigma protein kuantitatif, yakni meningkatkan kadar protein kasar (PK) pakan untuk mendongkrak produksi susu. Namun, pendekatan ini dinilai tidak lagi efisien.
“Protein pakan banyak terdegradasi di rumen menjadi amonia. Jika tidak didukung energi fermentabel yang cukup, amonia akan terbuang sebagai urea melalui urin. Ini bukan hanya boros biaya, tetapi juga berdampak pada lingkungan,” paparnya.
Model NPRP hadir sebagai solusi dengan menempatkan rumen sebagai pabrik biologis secara presisi. Pendekatan ini tidak berfokus pada peningkatan jumlah protein, melainkan proteksi selektif protein dan asam amino esensial pembatas, khususnya lisin dan metionin, agar dapat lolos dari degradasi rumen dan diserap secara optimal di usus halus.
Kebaruan NPRP terletak pada integrasi nutrisi presisi dengan fisiologi rumen serta kesesuaian dengan sistem peternakan tropis lokal. Proteksi protein dan asam amino dilakukan menggunakan senyawa herbal kondens tanin yang banyak tersedia di sekitar lingkungan peternak, sehingga lebih aplikatif dan berkelanjutan.
“Dengan model ini, diharapkan produksi dan kualitas susu meningkat, emisi amonia dari urin menurun, serta sistem peternakan menjadi lebih ramah lingkungan,” tambahnya.
Secara keseluruhan, Prof. Mashudi menegaskan bahwa Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP) berpotensi menjadi fondasi pengembangan peternakan perah tropis yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional berbasis susu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....