Teknik Grading Motif untuk Jaga Filosofi Batik

  • 09 Feb 2026 11:03 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Batik sebagai warisan budaya bangsa tidak hanya menyimpan keindahan visual, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Namun, perkembangan industri fesyen selama ini dinilai belum sepenuhnya memperhatikan keberagaman bentuk tubuh pemakainya, sehingga berpotensi menghilangkan makna filosofis motif batik dan memicu praktik body shaming.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd, Guru Besar Bidang Kependidikan dan Pembelajaran Vokasional Bidang Busana Universitas Negeri Malang (UM). Ia pun menggagas penelitian berjudul “Mempertahankan Makna Filosofi Motif Batik dengan Teknik Grading”.

Prof. Agus menjelaskan, sejak dahulu hingga kini belum banyak pengrajin maupun produsen batik yang merancang motif secara fleksibel untuk berbagai bentuk tubuh. Akibatnya, motif-motif besar kerap terpotong ketika dikenakan oleh pemakai bertubuh kurus, sehingga makna filosofisnya menjadi hilang.

“Misalnya motif Garuda yang melambangkan kekuatan dan pelindung. Jika sayap Garuda terpotong karena ukuran tubuh pemakai yang kecil, maka filosofi perlindungan itu juga hilang,” jelasnya, Senin (9/2/2026).

Kondisi tersebut, menurut Prof. Agus, tidak hanya berdampak pada estetika dan filosofi, tetapi juga berpotensi menimbulkan bullying dan body shaming dalam dunia fesyen.

Menjawab persoalan tersebut, Prof. Agus melakukan riset dengan menerapkan teknik grading motif, sebuah pendekatan yang selama ini lazim digunakan pada grading pola di industri garmen, namun jarang diterapkan pada desain motif batik.

Penelitian ini melibatkan 349 responden dari Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS) untuk menganalisis hubungan antara teknik grading pola, grading motif, serta minat penjahit dalam penerapannya.

“Hasil penelitian menunjukkan seluruh konstruk memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang sangat kuat. Nilai Cronbach Alpha berada pada rentang 0,856 hingga 0,948, sementara nilai Average Variance Extracted (AVE) berkisar antara 0,748 hingga 0,858, jauh di atas ambang batas ideal 0,50,” ungkapnya.

Secara struktural, hasil inner model membuktikan bahwa grading pola dan grading motif memberikan pengaruh positif signifikan terhadap kesesuaian pakaian, akurasi desain, serta minat penjahit. Penerapan teknik ini juga meningkatkan kepercayaan diri, keterampilan, dan profesionalitas pelaku fesyen.

“Ketelitian ukuran dan skala dalam grading memungkinkan penjahit menghasilkan busana yang meningkatkan harga diri pemakai. Ini penting untuk melawan standar citra tubuh yang merugikan dan praktik body shaming,” tegas Prof. Agus.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam analisis SWOT, rasio (S+O):(W+T) sebesar 1:1 menunjukkan keseimbangan antara kekuatan internal dan tantangan eksternal. 

Oleh karena itu, strategi yang disarankan mencakup optimalisasi kompetensi internal, investasi pelatihan, peningkatan kepercayaan konsumen, serta pelestarian keaslian budaya secara simultan.

Prof. Agus juga menekankan bahwa grading motif memungkinkan produksi batik dilakukan secara massal tanpa kehilangan makna filosofis. Motif dapat disesuaikan proporsinya untuk berbagai ukuran tubuh, baik kecil maupun besar, tanpa terpotong.

“Penelitian ini turut mengangkat kolaborasi motif batik dari tiga wilayah, yakni Malang dengan Topeng Malangan, Surabaya dengan motif Mangrove, serta Bandung dengan Mega Mendung. Seluruh motif dirancang dengan tetap memperhatikan filosofi penempatan simbol, seperti motif langit yang tidak ditempatkan di bagian bawah kain,” ujarnya.

“Dengan teknik grading motif, batik tetap menjaga keutuhan makna filosofisnya, sekaligus lebih inklusif dan siap diterapkan di industri fesyen modern,” pungkas Prof. Agus.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....