Gubes UM Tekankan Peran Strategis PAUD
- 05 Feb 2026 10:26 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memegang peran strategis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Untuk itu, manajemen pengelolaan PAUD harus dikuatkan.
“PAUD unggulan setidaknya memiliki empat kriteria utama. Pertama, proses pembelajaran yang bermakna, berpusat pada anak, serta berbasis bermain dan aktivitas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Samawi membagi keunggulan PAUD ke dalam dua bentuk, yakni keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif muncul dari kekhasan lembaga yang membedakannya dengan PAUD lain.
Untuk itu, Prof. Samawi menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui sintesis antara perspektif filosofis, ilmiah, religius, dan kultural. Pendekatan ini diyakini mampu melahirkan manajemen PAUD unggulan yang memberikan layanan maksimal bagi anak usia dini, termasuk dalam pengembangan kreativitas, kemampuan bahasa, kognitif, serta kecerdasan majemuk (multiple intelligences).
Ia juga menyoroti pentingnya penetapan visi lembaga PAUD sebagai langkah strategis fundamental.
Dalam konteks tantangan, Prof. Samawi menyoroti persoalan kesejahteraan dan mindset pendidik PAUD, yang mayoritas berada di lembaga swasta. Ia menilai, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci utama, termasuk melalui kreativitas guru dalam memanfaatkan bahan-bahan sederhana dan daur ulang sebagai media pembelajaran.
“Anak usia dini belajar melalui eksplorasi empirik dengan melibatkan seluruh pancaindra. Dengan SDM yang kreatif dan berpikiran terbuka, keterbatasan justru bisa melahirkan inovasi,” pungkasnya.
Guru Besar Bidang Manajemen Lembaga PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Ahmad Samawi menekankan konsep Sintesis Filosofis, Ilmiah, Religius, dan Kultural Manajemen Lembaga PAUD Unggulan.
Menurutnya, PAUD bukan sekadar jenjang awal pendidikan formal, melainkan fondasi utama pembentukan karakter, nilai, dan pandangan hidup manusia Indonesia.
“Pada usia dini inilah nilai-nilai kehidupan mulai ditanamkan dan karakter dasar anak dibentuk,” kata Prof. Samawi dalam pengukuhannya sebagai guru besar pada Kamis (5/2/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, jumlah anak usia dini di Indonesia mencapai sekitar 9,68 juta jiwa, atau lebih dari 11 persen dari total populasi anak. Angka tersebut, kata Prof. Samawi, bukan hanya statistik, tetapi mencerminkan besarnya tanggung jawab bangsa dalam menyiapkan generasi masa depan melalui layanan PAUD yang unggul dan berkualitas.
“PAUD unggulan setidaknya memiliki empat kriteria utama. Pertama, proses pembelajaran yang bermakna, berpusat pada anak, serta berbasis bermain dan aktivitas,” ujarnya.
“Kedua, kemitraan yang kuat antara lembaga PAUD dengan orang tua dan masyarakat. Ketiga, tata kelola lembaga yang profesional, terencana, dan akuntabel. Keempat, tata kelola yang mendorong inovasi dan kreativitas dalam pengembangan layanan PAUD,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Prof. Samawi membagi keunggulan PAUD ke dalam dua bentuk, yakni keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan komparatif muncul dari kekhasan lembaga yang membedakannya dengan PAUD lain.
“Sedangkan keunggulan kompetitif diperoleh melalui peningkatan profesionalisme pendidik serta penerapan manajemen lembaga yang prima dan berkelanjutan,” ungkap Prof. Samawi.
Menurutnya, dari hasil kajian empirik menunjukkan bahwa banyak lembaga PAUD belum mampu melayani pengembangan potensi anak secara optimal.
“Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai persoalan, mulai dari kesenjangan antara harapan dan realitas layanan, keterbatasan sumber daya manusia, hingga masalah pembiayaan,” kata dia.
Untuk itu, Prof. Samawi menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui sintesis antara perspektif filosofis, ilmiah, religius, dan kultural. Pendekatan ini diyakini mampu melahirkan manajemen PAUD unggulan yang memberikan layanan maksimal bagi anak usia dini, termasuk dalam pengembangan kreativitas, kemampuan bahasa, kognitif, serta kecerdasan majemuk (multiple intelligences).
Ia juga menyoroti pentingnya penetapan visi lembaga PAUD sebagai langkah strategis fundamental.
“Visi bukan sekadar slogan, tetapi gambaran ideal manusia yang ingin dibentuk,” jelasnya.
Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam misi, program kerja, pengembangan SDM, pembiayaan, sarana prasarana, hingga penguatan peran humas dan parenting yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Dalam konteks tantangan, Prof. Samawi menyoroti persoalan kesejahteraan dan mindset pendidik PAUD, yang mayoritas berada di lembaga swasta. Ia menilai, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci utama, termasuk melalui kreativitas guru dalam memanfaatkan bahan-bahan sederhana dan daur ulang sebagai media pembelajaran.
“Anak usia dini belajar melalui eksplorasi empirik dengan melibatkan seluruh pancaindra. Dengan SDM yang kreatif dan berpikiran terbuka, keterbatasan justru bisa melahirkan inovasi,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....