UB Jaga Rasio Dosen dan Mahasiswa
- 28 Jan 2026 10:27 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Universitas Brawijaya (UB) memastikan rasio dosen dan mahasiswa tetap terjaga sesuai ketentuan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), meski jumlah mahasiswa terus bertambah setiap tahun.
Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik UB, Arif Hidayat, mengatakan berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), UB saat ini memiliki sekitar 80.000 mahasiswa dengan 2.298 dosen. Secara institusi, rasio dosen dan mahasiswa berada di angka 1:30.
“Jika dihitung secara keseluruhan perguruan tinggi, rasio UB 1 banding 30. Namun penilaian akreditasi sebenarnya dilakukan per program studi, bukan institusi,” kata Arif dalam Dialog Malang Menyapa, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, setiap program studi mengikuti ketentuan rasio sesuai rumpun keilmuan. Program studi eksakta memiliki rasio ideal 1:20, sedangkan rumpun sosial 1:30. Pengecualian hanya berlaku bagi program studi baru yang masih dalam tahap pengembangan.
Menurut Arif, hingga kini seluruh program studi di UB telah memenuhi ketentuan rasio dan memiliki akreditasi unggul. Fakultas dengan jumlah mahasiswa besar, seperti Fakultas Kedokteran, memiliki dosen lebih banyak, meski saat ini rasio dosennya mendekati batas ketentuan.
“Untuk fakultas dengan peminat tinggi, kami sudah merencanakan penambahan dosen. Rekrutmen tidak bisa dilakukan sekaligus, sehingga disusun secara bertahap dalam beberapa tahun,” ujarnya.
Jika rasio ideal perguruan tinggi ditargetkan 1:25, UB masih memerlukan tambahan sekitar 500 dosen. Untuk menjaga kualitas pembelajaran, UB juga menjalankan program prioritas rektor dengan melibatkan dosen asing dan praktisi.
Sepanjang 2025, sekitar 700 dosen asing dan 150 praktisi terlibat dalam pembelajaran melalui skema visiting lecturer, adjunct professor, dan program 3 in 1. Kehadiran mereka dinilai membantu mengurangi beban mengajar dosen UB.
Selain itu, UB mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) Brone. Sistem ini memungkinkan mahasiswa mengakses materi dan berdiskusi secara daring, tanpa menggantikan perkuliahan tatap muka.
“Tatap muka tetap diperlukan. Teknologi hanya mendukung proses pembelajaran agar interaksi dosen dan mahasiswa tetap berkualitas,” kata Arif. (Annisa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....