Borobudur Ajarkan Musik Dunia ke Anak

  • 21 Des 2025 12:42 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Program Sound of Borobudur for Kids mengenalkan warisan musik dunia melalui relief Candi Borobudur kepada anak-anak.

Candi Borobudur tidak hanya menyimpan nilai arsitektur dan spiritual, tetapi juga merekam jejak peradaban musik dunia melalui relief-reliefnya. Kesadaran inilah yang diangkat dalam program edukasi Sound of Borobudur for Kids.

Program tersebut telah diluncurkan oleh gerakan Sound of Borobudur melalui penayangan video edukasi perdana di kanal YouTube Sound of Borobudur pada Kamis (18/12/2025).

Video ini dirancang khusus untuk anak-anak dengan pendekatan visual ramah, narasi imajinatif, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Melalui video tersebut, anak-anak diajak memahami relief Candi Borobudur sebagai “buku cerita raksasa” yang merekam kehidupan masa lalu, termasuk aktivitas manusia memainkan berbagai alat musik.

Berdasarkan riset Sound of Borobudur, terdapat lebih dari dua ratus relief alat musik yang terpahat di dinding Candi Borobudur. Jumlah tersebut menjadikan Borobudur sebagai situs dengan dokumentasi visual alat musik terbanyak di dunia.

Sebagian besar alat musik yang tergambar pada relief berusia lebih dari seribu tahun itu bahkan masih dapat ditemukan dan dimainkan di berbagai daerah di Indonesia serta puluhan negara lain.

Artis dan budayawan Trie Utami, salah satu inisiator Sound of Borobudur, menyebut relief Borobudur menyimpan memori bunyi peradaban masa lalu.

“Borobudur bukan monumen yang bisu. Relief-reliefnya menyimpan ingatan musikal leluhur kita,” ujar Trie Utami, Minggu (21/12/2025).

Dosen Universitas Brawijaya sekaligus budayawan, Dr. Redy Eko Prastyo, saat menjelaskan Program Sound of Borobudur for Kids.

Gerakan Sound of Borobudur sendiri digagas sejak 2016 oleh sejumlah seniman, akademisi, dan budayawan. Fokus utamanya adalah meneliti, merekonstruksi, dan menghidupkan kembali alat-alat musik yang tergambar pada relief Borobudur.

Hasil riset tersebut kemudian dikembangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari pertunjukan musik, forum akademik, hingga program edukasi. Dalam pengembangan Sound of Borobudur for Kids, teknologi AI dimanfaatkan untuk mengolah visual, suara, dan narasi agar lebih mudah dipahami generasi digital.

Dosen Universitas Brawijaya sekaligus budayawan, Dr. Redy Eko Prastyo, mengatakan pendekatan teknologi dipilih agar warisan budaya dapat disampaikan sesuai dengan bahasa zaman.

“Warisan budaya harus disampaikan dengan cara yang dekat dengan dunia anak-anak hari ini, tanpa kehilangan makna,” katanya.

Selain program video, Sound of Borobudur juga tengah menyiapkan peluncuran buku Sound of Borobudur yang disusun bersama Universitas Brawijaya dan akan diterbitkan oleh Intrans Publishing.

Buku tersebut dirancang sebagai rujukan akademik sekaligus bacaan populer tentang musik, sejarah, dan kebudayaan Borobudur.

Melalui Sound of Borobudur for Kids, Candi Borobudur dihadirkan tidak hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai sumber literasi musik dunia yang hidup dan relevan bagi generasi masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....