Atasi Krisis Air, Mahasiswa UMM Hadirkan Turbin Pompa

  • 18 Agt 2025 06:21 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Petani di Desa Tawangrejo, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Namun kini mereka kerap kesulitan mendapatkan air untuk menyiram tanaman, terutama saat musim kemarau dan saat pasokan listrik tak stabil. Keterbatasan suplai irigasi selama bertahun-tahun menjadi tantangan utama.

Untuk itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berinovasi melalui program pengabdian masyarakat. Yakni dengan mencitpakan teknologi tepat guna berupa turbin angin penggerak pompa. Adapun proyek tersebut sudah dilaksanakan oleh tim mahasiswa UMM sejak awal tahun hingga pertengahan tahun 2025 ini.

“Kami menyasar permasalahan pengairan lahan pertanian warga dengan pendekatan berbasis energi terbarukan,” kata ketua tim pengabdian,Abi Mufid Octavio, Minggu (17/8/2025).

Menurutnya, ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga keberlanjutan. Kegiatan ini rancang djuntuk menjawab kebutuhan masyarakat akan sistem pengairan yang mandiri dan berkelanjutan.

“Turbin angin ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun desa berbasis energi terbarukan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, turbin angin yang dipasang di lokasi strategis ini bekerja secara mekanik untuk menggerakkan pompa air dari sumber mata air ke lahan pertanian. Dengan memanfaatkan kekuatan angin, sistem ini mampu bekerja secara otomatis tanpa perlu aliran listrik atau bahan bakar.

“Hasilnya, pasokan air untuk irigasi dapat berjalan lebih lancar, efisien, dan tentunya hemat biaya,” kata dia.

Respons masyarakat terhadap inovasi ini sangat positif. Bagi mereka, ini bukan sekadar alat, tetapi harapan baru. Minah, salah satu warga mengapresiasi usaha para mahasiswa UMM. Bahkan ia mengaku tidak paham untuk apa anak-anak muda membangun teknologi ini.

“Awalnya saya pikir baling-baling itu cuma buat hiasan, ternyata bisa nyedot air,” ucapanya.

Hal serupa juga disampaikan Darto, pemuda setempat yang turut membantu dalam proses pengembangan turbin. Menurutnya, teknologi ini sangat membantu dengan efisiensi yang ditawarkan.

“Biasanya irigasi nunggu listrik nyala, kadang sampai malam. Tapi sekarang, kalau angin ada, ya air jalan. Hemat biaya, hemat tenaga,” katanya.

Penerapan turbin angin penggerak pompa ini membuka peluang lebih luas bagi pengembangan teknologi desa. Selain menunjang pertanian lokal, sistem ini juga mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional yang tidak ramah lingkungan.

Mufid dan tim berharap, teknologi ini tidak berhenti sebagai proyek sesaat, tetapi bisa menjadi prototipe yang direplikasi di desa-desa lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....