Makna Filosofis Ibadah Haji Bentuk Perjalanan Spiritual dan Perubahan Karakter
- 24 Mei 2026 11:17 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ibadah haji tidak hanya menjadi perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga proses pembentukan spiritual seorang muslim. Setiap rangkaian ibadah haji memiliki makna filosofis mendalam yang bertujuan memperbaiki karakter serta mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam program Mimbar Islam Pro 1 RRI Malang, Ustaz Khoirul Anam menjelaskan haji merupakan kewajiban bagi muslim yang mampu menjalankannya. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Surah Ali Imran ayat 97 tentang kewajiban menunaikan ibadah haji bagi yang sanggup melakukan perjalanan.
“Ibadah haji bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana perubahan karakter dan peningkatan spiritualitas seorang hamba kepada Allah,” ujar Ustaz Khoirul saat dikonfirmasi pada Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan tahapan pertama dalam haji adalah ihram yang menjadi simbol pelepasan atribut duniawi dan kesombongan manusia. Jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan, sedangkan perempuan memakai pakaian sederhana menutup aurat tanpa perhiasan.
“Pakaian ihram melambangkan kain kafan dan mengingatkan manusia bahwa di hadapan Allah seluruh manusia memiliki kedudukan sama,” jelasnya.
Menurutnya, makna tersebut juga sejalan dengan Surah Al A’raf ayat 26 yang menjelaskan pakaian terbaik adalah ketakwaan. Saat ihram, jamaah juga mengumandangkan talbiah sebagai bentuk kepasrahan total dan penegasan tauhid kepada Allah.
“Talbiah menjadi pengakuan bahwa seluruh nikmat, kekuasaan, dan kepemilikan sejati hanyalah milik Allah semata,” katanya.
Tahapan berikutnya adalah wukuf di Arafah yang menjadi rukun terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji. Rasulullah SAW bahkan menyebut haji adalah Arafah karena momentum tersebut menjadi saat manusia mengenali diri serta mendekatkan diri kepada Allah.
“Padang Arafah menjadi miniatur Padang Mahsyar, tempat seluruh manusia kelak dikumpulkan pada hari kebangkitan,” ungkapnya.
Ustaz Khoirul Anam juga menjelaskan mabit di Muzdalifah dan Mina mengandung simbol perjuangan melawan hawa nafsu serta godaan setan. Kerikil yang dikumpulkan jamaah kemudian digunakan untuk melempar jumrah sebagai lambang merajam sifat buruk dalam diri manusia.
“Lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, tetapi simbol perlawanan terhadap kesombongan, amarah, dan berbagai sifat buruk manusia,” terangnya.
Selain itu, thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali mengandung makna bahwa Allah harus menjadi pusat kehidupan manusia. Sedangkan sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi penghargaan Islam terhadap perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk putranya, Nabi Ismail.
“Sa’i mengajarkan bahwa keimanan harus disertai usaha terbaik, sedangkan hasil akhirnya tetap menjadi hak dan ketentuan Allah,” jelasnya.
Rangkaian terakhir adalah tahalul dengan mencukur atau memotong rambut sebagai simbol membersihkan diri dari kesombongan dan pikiran buruk. Melalui seluruh rangkaian tersebut, ibadah haji diharapkan mampu melahirkan pribadi muslim yang lebih rendah hati, sabar, dan bertakwa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....