Haji Mabrur Mengajarkan Manusia Kembali pada Kesucian dan Ketakwaan
- 16 Mei 2026 11:28 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Bulan Dzulqa’dah atau bulan Selo dalam penanggalan Jawa dengan suasana batin yang tenang dan penuh perenungan. Menurut Ustaz Dedi N Abdullah Tillu dalam program Cahyaning Ati di Pro 4 RRI Malang, kata “selo” menggambarkan kondisi duduk bersila, hening, dan menata hati. Suasana itu menjadi cerminan bagi jamaah haji yang saat ini mulai bersiap dari Madinah menuju Makkah sebagai tamu Allah SWT. Ia kemudian mengajak umat Islam memahami makna terdalam ibadah haji, bukan hanya dari sisi syariat, tetapi juga dari sisi ruhani dan tasawuf.
Dalam tausiyahnya, Jumat (15/5/2026), beliau juga mengingatkan kembali kisah wali Allah Abdullah bin Mubarak dengan seorang tukang sol sepatu di Pasar Damaskus. Kisah tersebut menunjukkan bahwa nilai kemuliaan di sisi Allah bukan terletak pada status sosial atau kemampuan materi, melainkan pada ketulusan hati dan keikhlasan dalam beribadah maupun membantu sesama.
Ustaz Dedi kemudian mengajak pendengar membayangkan suasana di miqat, tempat dimulainya niat ihram bagi jamaah haji dan umrah. Ketika seseorang mulai berihram, maka seluruh atribut keduniaan dilepaskan. Semua jamaah, apa pun mazhab, jabatan, dan kedudukannya, mengenakan pakaian putih yang sama sebagai simbol persamaan di hadapan Allah SWT.
“Bahkan seorang jenderal dengan semua tanda jabatan di bajunya harus melepas semuanya. Ketika ihram, kita semua sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan,” ungkapnya. Menurutnya, ihram menjadi simbol bahwa manusia harus belajar meninggalkan kesombongan dan keterikatan berlebihan terhadap dunia.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia sejatinya adalah kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Manusia lahir dalam keadaan fitrah, sebagaimana bayi yang bersih tanpa dosa. Karena itu, ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk “mereset” diri dari berbagai penyakit hati dan kecintaan dunia yang berlebihan sebelum akhirnya kembali kepada Allah SWT.
Ustaz Dedi juga menekankan pentingnya memahami makna filosofis dan tasawuf dalam setiap rangkaian ibadah haji. Menurutnya, pembelajaran manasik dari sisi fiqih memang sangat penting, namun tidak cukup jika tanpa pemahaman makna spiritual di balik setiap prosesi ibadah. Ia berharap panitia maupun pembimbing haji juga menjelaskan hikmah dan filosofi setiap rangkaian ibadah agar jamaah tidak hanya menjalankan ritual, tetapi benar-benar memahami nilai ma’rifat di dalamnya.
Melalui kajian tersebut, pendengar diajak merenungkan bahwa haji mabrur bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, melainkan perjalanan hati untuk kembali kepada Allah dengan jiwa yang bersih, rendah hati, dan penuh ketakwaan.(Mey)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....