Jejak Nabi Ibrahim dan Makna Haji Mabrur

  • 15 Mei 2026 06:26 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Umat Islam harus memahami bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan ritual tahunan, melainkan panggilan suci yang jejaknya telah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim AS Ini yang dijelaskan oleh Ustadz Khafidz Murtaji dalam program Tausyiah Mutiara Pagi, Jumat (15/5/2026)

Menurutnya sejarah haji bermula ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT membangun Ka’bah dan menyeru manusia agar datang menunaikan ibadah haji. Perintah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 27:

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Ustadz Khafidz Murtaji menceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS sempat merasa heran bagaimana suaranya dapat menjangkau seluruh manusia di muka bumi. Namun Allah SWT tetap memerintahkannya untuk menyeru umat manusia.

“Ada riwayat yang menyebut Nabi Ibrahim naik ke Bukit Shafa, ada juga yang menyebut ke Jabal Qubais. Beliau memanggil manusia untuk berhaji, dan panggilan itu masih hidup sampai hari ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, jutaan umat Islam yang datang ke Mekkah setiap tahun menjadi bukti nyata keberkahan seruan Nabi Ibrahim AS.

“Hari ini kita melihat jutaan orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Baitullah sambil mengucapkan talbiyah ‘Labbaik Allahumma Labbaik’. Itu bukti nyata panggilan Nabi Ibrahim AS dikabulkan Allah SWT,” katanya.

Dalam tausyiah tersebut, beliau menekankan bahwa setiap jamaah haji pasti mendambakan haji yang mabrur karena balasannya adalah surga. Namun menurutnya, kemabruran tidak boleh berhenti hanya ketika seseorang selesai menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

“Haji mabrur itu bukan sekadar gelar atau harapan sesaat. Haji mabrur harus menjadi karakter hidup sampai akhir hayat,” tegasnya.

Ustadz Khafidz menjelaskan, visi utama seorang haji adalah menjadi pribadi yang taat dan bermanfaat di jalan Allah SWT sepanjang hidupnya. Sementara misinya adalah membimbing diri sendiri, pasangan, anak, dan keluarga agar istiqamah menjalankan ajaran Islam.

“Jangan hanya diri sendiri yang berubah setelah haji. Pasangan, anak, dan keluarga juga harus diajak menjadi keluarga yang dekat kepada Allah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keluarga sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Melalui tausyiah bertema “Meraih Mabrur Haji Selamanya”, jamaah diajak memahami bahwa ibadah haji sejatinya adalah titik awal memperbaiki kehidupan agar semakin taat, ikhlas, dan bermanfaat bagi sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....