Suhu Capai 42C Menjelang Puncak Haji, Jemaah Diminta Jaga Kesehatan

  • 13 Mei 2026 14:27 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Suhu siang hari di Makkah mencapai 40 hingga 42 derajat Celcius, jemaah haji diminta menjaga kesehatan dengan minum cukup air. Hal ini penting agar jemaah tidak dehidrasi dan tetap sehat menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji. Petugas kloter juga mengedukasi jemaah untuk minum air putih minimal 200 ml per jam atau minimal empat teguk setiap 10 menit.

Menurut Plh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Probolinggo, Ervin Syarif Arifin, saat ini kesehatan menjadi salah satu prioritas, sehingga panitia haji di Arab Saudi juga telah menyediakan vitamin untuk jemaah haji.

“Kami waktu manasik di Indonesia juga menyarankan untuk membawa vitamin dan suplemen yang biasa dikonsumsi oleh jemaah,’’ kata Ervin Syarif dalam program Halo RRI, Rabu, 13 Mei 2026.

Saat ini, 1.204 jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo sudah berada di Makkah, dalam keadaan sehat dan lancar menjalankan rangkaian ibadah. Jemaah haji sudah selesai melaksanakan umroh wajib, dan mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal.

“Setelah dari Madinah mereka ambil miqot di Bir Ali, kemudian umroh wajib. Nah sekarang, kegiatannya menjalankan umroh sunah dan city tour di sekitar Masjidil haram,” kata Ervin.

Jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo merupakan kloter awal gelombang pertama yang tergabung dalam kloter 1, 2, 3 dan 4, mengawali rangkaian kegiatan di Madinah. Menjelang puncak ibadah haji untuk memastikan kondisi kesehatan dari para jamaah ini tetap dalam kondisi yang , petugas melakukan visitasi door to door setiap 2 hari sekali untuk melakukan pengecekan.

Laporan yang diterima Kemenhaj dan Umrah per tanggal 12 Mei 2026, yang juga menjadi tantangan bagi jemaah bukan hanya suhu di Makkah pada siang hari mencapai 40 hingga 42 derajat Celcius, tapi kelembaban udara yang berkisar 30 persen.

“Menurut PPIH Arab Saudi khususnya Makkah panasnya suhu termasuk siaga dua. Permasalahannya justru kelembaban udaranya 30 persen. Sementara kita di Indonesia itu biasanya di batas ambang 50 persen,” ungkapnya.

Untuk menjaga kesehatan, konsumsi jemaah juga diperhatikan dengan pendistribusian makan 2 jam sebelum dikonsumsi oleh jemaah. Menunya pun mengakomodir menu masakan Indonesia dengan bahan baku dari pelaku UMKM Indonesia.

“Kalau catering sudah lebih baik. Masakan Indonesia, beras, tempe dan bahan lainnya melibatkan UMKM Indonesia. Minim keluhan,” ujarnya.

Mendekati puncak ibadah haji, persiapan fisik dan mental harus dijaga oleh para jemaah haji.

“Untuk fisiknya teman-teman petugas kloter mengedukasi bahwa 5 hari sebelum puncak haji sudah harus stay, mengurangi aktivitas ziarah, atau city tour untuk menjaga kesehatan,” kata Ervin.

Sementara secara mental petugas menyiapakn jemaah dengan melakukan manasik kecil-kecilan di aula atau mushola hotel untuk lebih memantapkan manasik yang sudah dilakukan di Indonesia.

Menjelang wuquf di Arafah, sebagai persiapannya setiap petugas kloter melakukan survei didampingi dari pihak Syarikat atau bersama dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi khususnya Daker Makkah untuk melihat peta lokasi agar jemaah tidak keliru atau tersesat, karena tenda jemaah yang hampir sama baik di Arafah maupun di Mina. Sekaligus antisipasi agar tidak ada lagi jemaah yang terlantar karena tidak mendapat tenda atau alat transportasi.

Di akhir perbincangan, Ervin Syarif memohon doa agar jemaah haji Kabupaten Probolinggo diberi kelancaran menjalani rangkaian ibadah dan kembali ke tanah air pada 1 Juni 2026 dalam keadaan sehat dan mabrur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....