Ninda Kaninda Soroti Maraknya Buku Bajakan, Ajak Masyarakat Hargai Karya Penulis

  • 06 Jun 2026 17:35 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Owner Toko Buku Sani, Ninda Kaninda, mengungkapkan keresahannya terhadap maraknya peredaran buku bajakan di tengah masyarakat. Dalam dialog Jagongan UMKM yang digelar pada Jumat (5/6/2026), Ninda secara tegas mengingatkan masyarakat untuk tidak lagi mewajarkan praktik pembelian buku bajakan yang dinilai merugikan banyak pihak, terutama penulis dan penerbit.

Menurutnya, rendahnya kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor utama masih tingginya permintaan buku bajakan di pasaran. Ia menilai, sebagian masyarakat kerap tergiur harga murah tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap industri perbukuan.

“Buku yang asli dan bajakan ini kadang susah dibedakan, bagi pecinta buku pasti tahu bedanya, tapi untuk orang awam belum tentu tahu. Perbedaannya dapat dilihat dari harganya yang jauh di bawah harga pasaran. Jika ada buku dijual dengan harga sangat murah dan tidak wajar, biasanya itu buku bajakan,” ujarnya.

Selain dari sisi harga, Ninda juga membagikan sejumlah tips sederhana agar masyarakat dapat membedakan buku asli dan bajakan. Salah satunya dapat dilihat dari kualitas cover. Buku asli dicetak menggunakan file resmi dengan kualitas gambar yang tajam dan jelas. Sebaliknya, buku bajakan umumnya memiliki tampilan cover yang cenderung buram atau kurang presisi karena dicetak dari file yang tidak asli.

Ciri lainnya dapat diperhatikan pada bagian barcode. Pada buku asli, barcode biasanya tercetak jelas dan dapat dipindai. Sementara pada buku bajakan, barcode terlihat kabur. Perbedaan juga terasa dari kualitas kertas. Buku bajakan umumnya lebih ringan karena menggunakan bahan kertas dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan buku asli.

Ninda menegaskan bahwa proses pembuatan sebuah buku bukanlah perjalanan singkat. Sebuah karya lahir melalui tahapan panjang, mulai dari riset, proses penulisan, penyuntingan oleh editor, hingga penerbitan. Seluruh proses tersebut memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, membeli buku bajakan sama saja dengan tidak menghargai jerih payah penulis dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses kreatif tersebut.

Melalui edukasi ini, Ninda berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya membeli buku orisinal. Ia mengajak pembaca untuk menjadi konsumen yang bijak demi menjaga keberlangsungan industri literasi serta memberikan apresiasi yang layak bagi para penulis Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....