Bencana Datang, Jangan Lupakan Hewan Peliharaan

  • 06 Jun 2026 17:17 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ketika sirene peringatan berbunyi atau air mulai masuk ke halaman rumah, banyak orang spontan menyelamatkan dokumen penting, kendaraan, atau barang berharga. Namun dalam kepanikan itu, tidak sedikit hewan peliharaan yang justru tertinggal di dalam rumah, masih terikat atau terkunci di kandang tanpa kesempatan menyelamatkan diri. Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam program Dialog Kentongan RRI Malang Selasa (5/5/2026) bersama drh. Albiruni Haryo, Pimpinan Klinik Hewan Satwa Sehat Malang sekaligus dosen Universitas Brawijaya.

Menurutnya, kasih sayang kepada hewan tidak cukup ditunjukkan saat situasi normal, tetapi juga ketika kondisi darurat terjadi. "Jangan sampai hewan yang selama ini kita rawat justru terlupakan saat bencana datang," ujarnya. Drh. Albiruni menjelaskan pentingnya identifikasi dini bagi pemilik hewan peliharaan. Ia menyarankan masyarakat melaporkan keberadaan hewan kepada tetangga maupun pengurus RT/RW. Informasi sederhana ini dapat membantu petugas evakuasi mengetahui bahwa ada hewan yang juga membutuhkan pertolongan ketika terjadi kebakaran, banjir, atau gempa bumi. "Petugas perlu tahu bahwa di rumah tersebut bukan hanya ada manusia, tetapi juga ada nyawa lain yang harus diselamatkan," katanya.

Selain itu, akses evakuasi menjadi hal yang sering diabaikan. Banyak pemilik hewan menempatkan kandang di lokasi yang sulit dijangkau atau mengikat hewan secara permanen. Padahal saat keadaan darurat, beberapa menit pertama sangat menentukan keselamatan. Bagi warga yang tinggal di wilayah rawan banjir, drh. Albiruni menyarankan agar kandang ditempatkan di area yang lebih tinggi dan mudah dibuka sewaktu-waktu. "Jangan membuat hewan terjebak oleh sistem pengamanan yang justru menyulitkan proses penyelamatan," jelasnya.

Hal menarik lainnya adalah pentingnya latihan evakuasi mandiri di lingkungan keluarga. Menurutnya kesiapsiagaan tidak bisa hanya mengandalkan teori. Pemilik hewan perlu membiasakan diri dengan simulasi sederhana agar terbentuk muscle memory atau memori gerakan saat menghadapi situasi darurat. "Kalau sudah pernah berlatih, tubuh akan lebih cepat merespons ketika keadaan darurat benar-benar terjadi," ungkapnya. Simulasi tersebut dapat dilakukan bersama anggota keluarga maupun komunitas di tingkat RT dan RW.

Di akhir dialog, drh. Albiruni mengingatkan bahwa kondisi emosional pemilik sangat memengaruhi perilaku hewan saat bencana. Hewan peliharaan cenderung meniru kepanikan pemiliknya sehingga menjadi lebih sulit dikendalikan ketika proses evakuasi berlangsung. Karena itu, ketenangan menjadi salah satu kunci keselamatan. Ia juga menyoroti bahwa sistem evakuasi hewan di Indonesia masih terus berkembang dan membutuhkan dukungan berbagai pihak. "Mitigasi bencana bukan hanya tentang menyelamatkan manusia, tetapi juga memastikan makhluk hidup lain yang bergantung pada kita dapat bertahan dan selamat," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....