Apa Hubungan antara ADHD dan Kecemasan?

  • 26 Mar 2026 11:56 WIB
  •  Malang

RRI.CO. ID – ADHD dan kecemasan seringkali muncul bersamaan, dan saling keterkaitan antara keduanya jauh lebih rumit ketimbang sekadar kesamaan gejala. Data dari Healthline menunjukkan bahwa sekitar 25% individu dengan ADHD turut mengalami gangguan kecemasan, sementara beberapa penelitian bahkan memperkirakan angka komorbiditas bisa mencapai 50%.

ADHD umumnya berdampak pada kemampuan berkonsentrasi, kontrol impuls, serta penyelesaian tugas, sedangkan kecemasan seringkali mengakibatkan kekhawatiran yang berlebihan, ketegangan fisik, hingga serangan panik.

Ketika kedua kondisi ini hadir bersamaan, gejalanya bisa saling memperburuk—misalnya, individu yang menghadapi kesulitan dalam fokus akibat ADHD mungkin menjadi lebih cemas karena khawatir terlihat "tidak mampu", di sisi lain, kecemasan yang tinggi dapat menurunkan kapasitas otak untuk berkonsentrasi, sehingga ciri-ciri ADHD menjadi semakin terlihat.

Healthline juga menggarisbawahi bahwa perempuan lebih sering tidak terdiagnosis ADHD karena mereka cenderung menunjukkan gejala yang bersifat internal—seperti kecemasan, overthinking, atau perfeksionisme—akibatnya banyak kasus ADHD pada perempuan baru teridentifikasi setelah bertahun-tahun.

Penanganan kedua kondisi tersebut memerlukan pendekatan yang cermat karena pengobatan ADHD, khususnya obat-obatan stimulan, kadang-kadang dapat memperburuk rasa cemas pada beberapa individu. Dokter biasanya memulai dengan mengevaluasi kondisi mana yang paling mengganggu kehidupan sehari-hari, kemudian merancang pendekatan bertahap yang menggabungkan terapi psikologis, obat non-stimulan, serta dukungan gaya hidup.

Healthline menekankan bahwa Terapi Perilaku Kognitif (CBT) sangat efektif dalam mengatasi pola pikir yang dapat memicu kecemasan dan membantu individu dengan ADHD menciptakan sistem manajemen diri yang lebih teratur. Lebih jauh lagi, penerapan kebiasaan sehat seperti tidur teratur, berolahraga secara rutin, menghindari konsumsi kafein yang berlebihan, mengatur beban pekerjaan, belajar teknik grounding, dan melakukan journaling dapat berperan dalam menstabilkan konsentrasi sekaligus mengurangi ketegangan mental.

Mengingat bahwa kedua kondisi tersebut saling mempengaruhi, hal yang paling penting adalah menjalin komunikasi yang terbuka dengan tenaga medis—semakin rinci seseorang menggambarkan gejalanya, semakin tepat dokter dapat menentukan kombinasi terapi, obat, dan perubahan gaya hidup yang paling sesuai. (Dito Fontana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....