Tren Pelihara Aglaonema di Malang Raya Pasca Pandemi
- 22 Nov 2025 00:01 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Tantangan bagi warga penghobi memelihara tanaman hias saat musim hujan. Lebih dari dua bulan menjelang akhir tahun 2025, hujan hampir selalu mengguyur kawasan Malang Raya dan sekitarnya.
Bahkan hujan datang tak pandang waktu. Bisa mulai pagi, bahkan siang. Waktu sore hingga malam pun hujan berpotensi turun setiap hari.
Aktivitas masyarakat dalam merawat tanaman hias maupun bunga pun terbatas. Namun, yang suka mengoleksi tanaman hias, salah satunya aglaonema, tidak pernah surut.
Booming warga memelihara aglaonema terasa sejak masa pandemi Covid-19 terjadi mulai akhir 2019. Peningkatan permintaan terhadap tanaman hias cukup signifikan.
Pandemi ini mengakibatkan pergeseran perilaku konsumsi masyarakat Indonesia, salah satunya minat beli masyarakat terhadap tanaman hias aglaonema.
Setelah hampir lima tahun Covid-19 berlalu, aglaonema semakin berkembang. Ada banyak jenis dan variasi membuat pencinta tanaman itu membudidayakan di rumah.
Apalagi ada yang meyakini filosofi atau nama aglaonema dalam Bahasa Indonesia adalah “Sri Rezeki” alias keberuntungan yang menyertai.
Pada dasarnya, tanaman ini termasuk tanaman hias yang mudah dirawat dengan dedaunan yang punya kombinasi putih, hijau tua, merah muda, dan warna-warna cantik lainnya.
Sri Rezeki ini tidak bisa diremehkan begitu saja, ada alasan mengapa tanaman ini jadi populer. Pertama, tentunya tampilan aglaonema yang mempesona.
Perawatan tanaman ini cukup minimal karena mereka tumbuh dengan lambat dan butuh waktu lama untuk tumbuh lebih besar dari potnya.
Aglaonema merupakan tanaman yang tidak rewel dan tangguh. Secara umum, tanaman ini juga sangat fleksibel dan mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan dalam ruangan.
Upaya menjaga sekaligus meningkatkan minat masyarakat akan aglaonema, Asosiasi Aglaonema Nusantara (ASA) dan Aglaomania Malang pun pekan kedua November lalu menghelat kontes dan pameran aglaonema.
Kontes Nasional Aglaonema Nusantara #5 pada Minggu (9/11/2025) di Gedung BBPPMPV - BOE VEDC Jalan Teluk Mandar, Arjosari, Blimbing, Kota Malang.
"Kami berupaya mempererat tali silaturahmi antar penghobi aglaonema di Indonesia," ujar ketua panitia dari DPC ASA Malang Raya Mario Abien kepada RRI Malang, Sabtu (22/11/2025).
Ada tiga kategori atau kelas yang dilombakan. Antara lain, Jouvenil untuk tanaman aglaonema dengan maksimal sembilan daun.
Kemudian, kelas Tunggal Dewasa, tanaman aglaonema dengan minimal 10 daun. Kelas yang terakhir rumpun bebas. Penilaian dilakukan oleh juri yang berpengalaman dan berstandar ASA.
Adapun kriteria penilaian meliputi kesehatan dan kebersihan tanaman. Kemudian kestabilan pertumbuhan tanaman. Hingga kepiawaian para pemilik tanaman dalam menampilkan performa terbaiknya.
Kontes sekaligus pameran menjadi kesempatan untuk menunjukkan keahlian para penghobi dalam menampilkan performa tanaman masing-masing di atas meja kontes.
Dalam dunia kontes aglaonema ada unsur seni yang luar biasa. Karena menampilkan tanaman aglaonema dengan performa terbaiknya bukan perkara gampang.
Butuh perawatan lebih, agar dapat menampilkan keindahan pada tanaman aglaonema. Selain sebagai ruang untuk memilih aglaonema terbaik, kontes juga merupakan sarana edukasi.
Terutama untuk mengenalkan aglaonema pada masyarakat luas dan penghobi baru. “Kami ingin menggaet penghobi aglaonema baru, yang awalnya hanya punya satu aglaonema, bisa mengenal semua jenis aglaonema,” imbuhnya.
Di sela-sela kontes digelar juga bursa dan lelang aglaonema. Masyarakat berkesempatan menambah koleksi tanaman aglaonema dari jenis terbaik dengan harga yang wajar.
Juga melalui lelang akan ditawarkan berbagai jenis aglaonema. Bila beruntung yang bisa didapatkan dengan harga miring, jauh dari harga pasarannya.
Kegiatan rutin DPC ASA Malang Raya ini memasuki edisi kelima. Kontes sebelumnya berlangsung di beberapa lokasi. Salah satunya Balai Kawedanan Singosari Malang. (Nana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....