Motif Batik Tumpal Malang, Warisan Candi Hidup Kembali

  • 25 Okt 2025 12:54 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Kekayaan budaya Kota Malang kembali mendapat ruang baru lewat lahirnya Motif Batik Tumpal Malang, hasil karya Asosiasi Perajin Batik Kota Malang yang terinspirasi dari relief Candi Jago. Motif ini menjadi simbol keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan, sekaligus menegaskan identitas budaya Malang yang berakar pada warisan sejarah.

Motif segitiga dengan isian bunga teratai pada batik ini diadaptasi dari relief pada pipih tangga pertama menuju tangga kedua Candi Jago. Secara filosofis, tumpal menggambarkan hubungan harmonis antara mikrokosmos (manusia), makrokosmos (semesta), dan metakosmos (alam gaib) dari dunia ragawi hingga spiritual.

Bentuk segitiga runcing yang menyerupai gigi buaya dipercaya mengandung makna magis sebagai penolak bala, melambangkan kekuatan dan keseimbangan spiritual layaknya gunung yang suci. Dalam konteks seni pertunjukan, makna ini menjadi doa bagi keselamatan dan keberuntungan hidup.

Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Ki Demang (Isa Wahyudi), menunjukan batik khas tumpal. (Foto : Istimewa)

Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Ki Demang (Isa Wahyudi), mengatakan batik tumpal bukan sekadar karya tekstil, melainkan medium ekspresi budaya yang menyatukan masa lalu dan masa kini.

“Motif ini menjadi simbol khas Malang yang diharapkan tak hanya dikenal lewat busana, tapi juga hadir dalam seni tari tradisional seperti Tari Beskalan Putri dan Tari Topeng Malang,” ujarnya.

Pembuatan batik tumpal menuntut ketelitian tinggi agar keaslian motif tetap terjaga. Dengan demikian, nilai historis dan filosofisnya tak luntur, melainkan menjadi bentuk pelestarian cagar budaya yang memperkuat identitas lokal di tengah arus globalisasi.

Menurut Prof. Roby Hidajat, Guru Besar Seni Tari dan Musik Universitas Negeri Malang, penggunaan motif tumpal dalam selendang tari telah memperlihatkan penguatan ide lokal.

“Teknis pembatikan perlu terus digali agar motif tetap jelas terlihat dari jarak minimal sepuluh meter. Dukungan pemerintah bagi kelompok seni juga sangat penting,” katanya.

motif ini membuka ruang kreatif baru dalam penciptaan sampur tari. (Foto: Istimewa)

Sementara Dr. Tri Wahyuningtyas, Dosen Seni Tari dan Musik UM, menilai motif ini membuka ruang kreatif baru dalam penciptaan sampur tari.

“Perlu kesepakatan bersama karena dalam pendaftaran Tari Beskalan sebagai Warisan Budaya Takbenda, selendang yang digunakan masih polos. Motif tumpal harus dikaji agar dapat menjadi dasar penguatan busana tari Malang,” terangnya.

Motif Batik Tumpal Malang kini menjadi lebih dari sekadar hiasan kain ia menjelma menjadi simbol hidup dari spiritualitas, sejarah, dan seni Kota Malang yang terus berdenyut di tengah masyarakat modern.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....