Roblox, Kreativitas Anak dan Risiko Terselubung

  • 12 Agt 2025 20:34 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Game Roblox, yang pertama kali rilis pada tahun 2006, awalnya dirancang untuk mengundang kreativitas anak dalam membangun dunia virtual.

Menurut Melon, seorang YouTuber dan streamer gaming, popularitas Roblox mulai melonjak pada 2009, ketika para pemain mulai menciptakan berbagai map atau dunia buatan mereka sendiri.

“Di Roblox banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan, mulai dari melompat, bermain tembak-tembakan, hingga roleplay seperti di Squid Game. Ada pula map populer di Indonesia seperti Tower KDM,” jelas Melon, Selasa (12/8/2025).

Namun, memasuki tahun 2025, Melon menyoroti munculnya penyalahgunaan platform ini untuk menarik anak-anak ke konten yang tidak layak. Hal ini diperkuat oleh konten di YouTube dan TikTok.

“Dalam Roblox, pemain bisa memilih roleplay, misalnya menjadi tentara dengan senjata, berperang, dan melukai karakter lain. Ini bisa menjadi pintu masuk konten kekerasan bagi anak-anak,” ungkapnya.

Menurut Melon, masalah utama ada pada kurangnya pengawasan dan lemahnya sistem verifikasi Roblox. “Usia akun bisa dipalsukan. Voice chat juga bisa diakses anak-anak jika orang tua membantu verifikasi KTP,” ujarnya.

Melon menekankan pentingnya langkah pencegahan, seperti mengatur fitur parental control, Google Family Link, TikTok parenting, YouTube Kids, dan pengaturan Roblox parenting bisa membatasi anak hanya pada map kreatif yang direkomendasikan resmi. Anak juga sebaiknya tidak menggunakan search engine di Roblox, tapi hanya memilih dari rekomendasi aman.

Ia juga menilai pemerintah perlu turun tangan. “Di negara seperti China, Play Store dibatasi. Kalau di sini, anak sudah bisa mengakses YouTube, TikTok, dan Play Store sejak awal. Pemerintah harus menggandeng developer dan kreator game untuk membuat konten edukatif,” pungkasnya.

Dengan segala kebebasan dan kreativitas yang ditawarkan, Roblox tetap memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai. Pengawasan orang tua, pemahaman risiko, dan aturan yang tepat menjadi kunci agar anak dapat menikmati manfaatnya tanpa terjebak dalam konten yang merugikan. (Putri Sahrani).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....