Perempuan Ini Pilih Hidup Nomaden di Truk
- 31 Jul 2025 10:38 WIB
- Malang
KBRN, Malang : Perjalanan menyelam ke Honduras pada 2019 menjadi titik balik hidup bagi Ashley Kaye, perempuan 36 tahun asal Wisconsin, Amerika Serikat. Pertemuan dengan seorang traveler penuh waktu membuatnya terinspirasi untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjalani hidup nomaden.
“Dia bilang, seandainya melakukan ini lebih cepat. Ternyata lebih mudah dan murah dari yang dibayangkan. Itu langsung mengubah segalanya,” kata Kaye kepada CNBC Make It.
Setahun kemudian, ia resmi resign dan mulai menjelajah dunia. Saat itu, ia memiliki tabungan sekitar USD 37.000 (sekitar Rp600 juta). Namun, adaptasi bukan hal mudah. “Aku tidak tahu caranya untuk tidak melakukan apa-apa. Beberapa bulan pertama benar-benar berat,” kenangnya.
Tiga tahun keliling dunia membangun kepercayaan dirinya. Pada 2022, ia terinspirasi dari pasangan traveler yang hidup di truk modifikasi lengkap dengan camper. Kaye lalu membeli Toyota Tacoma seharga USD 42.934 (Rp700 juta), setelah menjual rumah masa kecilnya seharga USD 320.000 (Rp5,2 miliar).
Maret 2023, Kaye mulai merenovasi truknya di Baja California, Meksiko. Total biaya yang dihabiskan mencapai USD 50.000 (Rp810 juta), mencakup camper, panel surya, suspensi baru, kulkas listrik, hingga ban off-road.
Dengan truk tersebut, ia memulai perjalanan menyusuri Jalan Raya Pan American, rute terpanjang di dunia dari Denver menuju Ushuaia, Argentina. “Ini cara traveling yang luar biasa. Kita bisa berhenti di mana pun dan tinggal selama yang diinginkan,” ujarnya.
Kehidupan di jalan tak selalu mudah. Rata-rata ia menghabiskan Rp9 juta untuk bensin dan Rp7,3 juta untuk makanan per bulan. Tambahan biaya lain termasuk pulsa, internet Starlink, serta sesekali membayar pengalaman premium seperti menyelam di Galápagos, yang memakan biaya lebih dari Rp97 juta.
Kaye biasanya tinggal 2–3 malam di satu lokasi, tanpa fasilitas kamar mandi. Ia mengandalkan toilet portabel dan kantong mandi. Dalam kesehariannya, ia membagi waktu antara hari perjalanan dan hari istirahat.
“Tantangan terbesar justru aktivitas fisiknya. Setiap kali pindah lokasi, aku harus membongkar dan menata ulang camper. Itu melelahkan,” ungkapnya.
Kini, meski belum menuntaskan seluruh rute Pan-American, Kaye mulai mempertimbangkan untuk menjual truknya tahun depan. “Sebagian diriku ingin memulai bab baru, tapi aku juga belum selesai menjelajah,” ujarnya.
Ia belum yakin akan kembali menetap di AS. Jika pun membeli rumah, ia berencana menjadikannya aset investasi. Sementara itu, pilihan tinggal di Prancis Selatan, Spanyol, atau Italia masih terus dipertimbangkan.
“Buatku yang penting adalah menemukan tempat yang cocok di hati. Kalau sudah cocok, tantangan apa pun bisa dihadapi,” tutup Kaye. (Adelia Devi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....