Kopi dan Buku, Kombinasi yang Menyuburkan Literasi

  • 14 Jul 2025 23:30 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Di tengah era digital yang penuh distraksi dan pergeseran budaya baca, gerakan sederhana seperti membaca buku di kafe justru mampu menciptakan ruang tumbuh bagi literasi. Tema inilah yang diangkat dalam Dialog Malang Pagi Ini edisi Sabtu,(12/7/2025), bertajuk “Ngopi Sambil Membaca: Upaya Ringan Menyemai Literasi”. Bersama Kelvinsius Julio, inisiator Komunitas Book at Cafe, diskusi menggali bagaimana budaya membaca bisa dikemas dalam suasana santai namun tetap berdampak signifikan.

Kelvinsius mengisahkan bahwa kebiasaan membaca buku fisik telah melekat sejak masa kuliah. Namun saat mulai beralih ke e-book setelah lulus, ia merasa kehilangan kedekatan yang biasa ia rasakan. “Saya pribadi sejak zaman kuliah sudah terbiasa menggunakan buku fisik. Setelah itu mencoba baca e-book tapi nggak cocok—nggak ada aroma buku, nggak ada sensasi membalik halaman,” ujarnya. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan kuat baginya untuk kembali mengampanyekan buku cetak di ruang-ruang publik seperti kafe.

Baginya, membaca buku fisik memiliki keunikan yang tak tergantikan oleh teknologi. Tidak hanya soal pengalaman inderawi, tetapi juga suasana yang lebih fokus. “Buku fisik tidak banyak distraksinya, tidak seperti membaca e-book yang seringkali terganggu oleh notifikasi,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa ada kepuasan tersendiri saat melihat rak buku di kamar makin penuh—sebuah indikator personal dari konsistensi dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Komunitas Book at Cafe yang digagasnya hadir sebagai jembatan antara hobi membaca dan aktivitas sosial. Mereka rutin menggelar sesi baca bersama di kafe-kafe lokal Malang, tak hanya untuk membaca, tetapi juga berdiskusi dan saling merekomendasikan buku. Gerakan ini terbukti efektif menarik anak muda, khususnya mereka yang selama ini merasa membaca adalah aktivitas berat. “Ngopi sambil baca itu ringan, tapi efeknya bisa luar biasa kalau dilakukan rutin,” ungkapnya optimis.

Kebiasaan sederhana seperti ini bisa menjadi pintu masuk bagi kebangkitan literasi di ruang-ruang kasual. Buku tidak selalu harus dibaca di perpustakaan atau ruang belajar; cukup dengan secangkir kopi, suasana nyaman, dan semangat berbagi, membaca bisa kembali menjadi bagian dari keseharian yang menyenangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....