Menyatu dengan Emosi lewat Sentuhan Seni Keramik
- 22 Jun 2025 06:55 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Di tengah denting kehidupan kota yang tak henti berdenyut, sebuah oase ketenangan muncul, menawarkan ruang bagi emosi untuk berekspresi dan tangan untuk bercerita. "Lempung dalam Rasa" bukan sekadar lokakarya seni, melainkan sebuah perjalanan emosional mendalam melalui medium kerajinan keramik yang menyentuh jiwa.
Mengusung konsep terapi kreatif, acara ini mengundang peserta untuk meracik beragam emosi menggunakan tanah liat, warna, dan bentuk. Setiap sentuhan pada lempung menjadi jembatan menuju refleksi batin, memberikan kebebasan pada tangan untuk mengungkapkan apa yang sulit terucap. Proses meditatif ini tak hanya menghasilkan karya visual yang unik, tetapi juga membuka pintu bagi pelepasan, penerimaan, dan penyembuhan diri.
Cap Tangan: Simbol Koneksi dan Keberanian
Salah satu momen yang paling berkesan dan penuh makna adalah sesi cap tangan bersama. Dengan tangan berlumur tanah liat, para peserta menorehkan jejak mereka di papan lempung raksasa, menciptakan pola kebersamaan yang kuat. Cap tangan ini tak hanya menjadi bukti kehadiran fisik, tetapi juga simbol keberanian untuk hadir secara utuh dengan segala emosi yang menyertai.
"Waktu kami menempelkan tangan bersama, rasanya seperti saling berkata, 'Aku ada bersamamu, dan kamu tidak sendiri.' Itu sangat menyentuh," ujar seorang peserta yang sengaja datang dari luar kota demi mengikuti acara ini, Sabtu (21/6/2025).
Cokelat: Pelengkap Jiwa yang Menenangkan
Kehadiran cokelat dalam acara ini bukan sekadar pemanis. Dipilih karena efek relaksasi alaminya, cokelat terbukti membangkitkan hormon kebahagiaan, memberikan kehangatan emosional di tengah proses kreasi yang intens.
Bagi banyak peserta, cokelat bertransformasi dari sekadar kudapan menjadi bagian integral dari pengalaman sensorik yang utuh.
"Cokelat ini seperti teman yang menggandeng tangan kita di saat rapuh. Menenangkan, menyenangkan, dan membumi," tutur seorang peserta yang awalnya ragu ikut karena belum pernah bersentuhan dengan tanah liat.
Mengolah Emosi Lewat Kearifan Budaya
"Lempung dalam Rasa" juga merangkul kearifan lokal, mengangkat filosofi tanah sebagai unsur penyatuan. Dalam banyak budaya Indonesia, tanah adalah simbol kehidupan, keteduhan, dan fondasi. Pendekatan inilah yang membuat pengalaman dalam lokakarya ini terasa sangat membumi, baik secara harfiah maupun batiniah.
"Ini bukan sekadar membuat vas atau piring. Ini tentang menyusun ulang diri kita sendiri," jelas Intan Rahmani, seniman keramik dan fasilitator utama acara.
"Melalui seni, kita memberi ruang pada rasa yang kadang sulit diungkapkan dengan kata."
Sebuah Ruang Aman untuk Pulih
Acara ini berdiri sebagai wadah aman bagi siapa pun yang lelah, patah, atau sekadar ingin merasa lebih utuh. Di sini, tak ada penilaian, tak ada ekspektasi, hanya ada tangan, lempung, warna, cokelat, dan kebersamaan. Pesan utamanya sederhana namun sangat mendalam: setiap rasa layak diberi ruang.
Sebagai penutup perjalanan emosional ini, karya keramik hasil ciptaan peserta akan dipamerkan dalam sebuah mini galeri yang terbuka untuk umum. Tembok besar cap tangan juga akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pameran, berdiri sebagai monumen kehadiran kolektif dan jejak emosional yang tak terlupakan.
________________________________________
Suara Hati Peserta:
• "Lempung ini seperti terapi diam. Saya menangis tanpa sadar saat membentuknya." – Siska, peserta
• "Saya datang sendirian, tapi pulang merasa punya teman satu ruang." – Angga, mahasiswa
"Lempung dalam Rasa" lebih dari sekadar tentang seni; ia adalah tentang menjadi manusia sepenuhnya. Ia menyentuh apa yang kasat mata, sekaligus apa yang tersembunyi di balik senyuman dan diam. Dengan tangan yang kotor oleh lempung, kita justru menemukan cara untuk membersihkan isi hati. Dan di antara cap tangan yang menyatukan dan manisnya cokelat, kita menemukan bahwa menyembuhkan bisa sesederhana menyentuh dan dirasakan bersama. (DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....