Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara Hibur Anak-anak Satapsemi

  • 24 Feb 2025 12:19 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang : Sekitar 50 anak dari Satu Atap Sejuta Mimpi (Satapsemi) terhibur dengan dongeng yang dibawakan Sanggar Dongeng Kepompong Nusantara di Musala Batur Rohman, Kotalama, Kedungkandang, Kota Malang, Senin (24/2/2025).

Ketua sanggar, Yudi Agus Priyanto atau Kak Yudi, menghadirkan boneka Jojo yang mengundang gelak tawa anak-anak.

“Kami hadir untuk menghibur dan bermain bersama anak-anak, sekaligus belajar bersama,” ujar Yudi.

Dalam satu jam pertunjukan, anak-anak menyimak dongeng bertema bakti kepada orang tua. Mereka duduk bersimpuh, menyaksikan Kak Yudi bercerita dan semakin antusias saat boneka Jojo muncul. Usai dongeng, mereka menerima sebotol susu dan roti, menambah kebahagiaan mereka.

Anak-anak di Satapsemi merupakan binaan Yayasan Bersama Anak Bangsa Malang yang mendapat bimbingan belajar dari mahasiswa Laskar Belajar setiap pekan. Rumah belajar ini telah mendapat pendampingan selama 10 tahun untuk membantu anak-anak mengakses pendidikan dan menghapus stigma negatif di Kampung Muharto.

“Mereka butuh hiburan dan dukungan agar tidak lagi dilabeli sebagai kampung pengemis, pengamen, atau narkoba,” kata Ketua Yayasan Bersama Anak Bangsa Malang, Yuning Kartikasari atau Mbak Yuyun.

Kampung Muharto kerap mendapat stigma sebagai sarang preman. Namun, selama 23 tahun, Yayasan Bersama Anak Bangsa aktif dalam pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Para relawan mendampingi anak-anak agar bisa mengenyam pendidikan dan memperbaiki masa depan mereka.

Ketua sanggar, Yudi Agus Priyanto atau Kak Yudi, menghadirkan boneka Jojo yang mengundang gelak tawa anak-anak. (Foto: Sanggar Kepompong)

“Tantangan terbesar adalah orang tua yang meminta anaknya membantu berjualan,” ujar Yuyun.

Salah satu anak berusia 15 tahun terpaksa putus sekolah dan menjadi kuli panggung di Pasar Induk Gadang demi membantu keluarganya. Yayasan sedang mengupayakan agar ia bisa mengikuti Kelompok Belajar paket A.

Beberapa anak juga bekerja berjualan bakpao atau mengamen di jalanan. Fenomena ini sempat viral di media. Yuyun menegaskan bahwa anak-anak seharusnya belajar dan bermain, bukan dieksploitasi.

“Padahal, banyak di antara mereka yang pintar dan berprestasi,” katanya.

Contohnya, Firman, siswa Kelas 9 SMP Negeri 9 Malang, yang tetap bisa bersekolah meski harus berjualan tahu bakso hingga tengah malam. Yuyun mengajak para orang tua untuk mengubah pola pikir dan memberi kesempatan anak-anaknya bersekolah, apalagi pendidikan dasar kini gratis.

“Kasihan, anak-anak belum saatnya bekerja. Risiko di jalanan terlalu besar,” tuturnya.

Dengan pendidikan, lanjut Yuyun, anak-anak bisa mewujudkan cita-cita dan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Yayasan Bersama Anak Bangsa juga telah mendirikan rumah belajar di kampung pemulung Sukun, rumah susun Buring, permukiman tepi rel kereta, dan Omah Harsa di Tanjungrejo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....