Music Director, Penjaga Selera Musik dan Identitas Radio
- 06 Okt 2026 15:21 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Asosiasi Music Director Indonesia (AMDI) Malang Raya mendorong penguatan kolaborasi antarstasiun radio, musisi, label rekaman, dan pelaku industri musik sebagai salah satu upaya menjaga eksistensi radio di tengah pesatnya perkembangan platform digital.
Hal tersebut mengemuka dalam program OBRAS (Obrolan Komunitas) RRI Malang, Jumat (2/10/2026), yang menghadirkan sejumlah Music Director (MD) radio dari Malang Raya serta Fabian, Music Director Radio Suara Surabaya. Program tersebut dipandu Host Argha Saputra.
Hadir dalam perbincangan tersebut Anon dari Radio Kosmonita Malang, Karin atau Karin Eva dari Radio Tidar Sakti Batu, Ilul dari Radio Elfara Malang, Justin Vidi yang merupakan eks-MD S Radio Malang, Iyan Taufik dari Radio Republik Indonesia Malang, serta Fabian dari Radio Suara Surabaya.

Dalam diskusi, para MD menilai perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi dan musik melalui perangkat digital tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi radio. Sebaliknya, perkembangan teknologi dapat menjadi ruang baru bagi radio untuk memperluas jangkauan dan menunjukkan eksistensinya.
Fabian mengatakan, radio saat ini perlu kembali menunjukkan kekuatannya, termasuk dengan memanfaatkan ruang digital. Menurutnya, kehadiran radio di media sosial dalam bentuk visual maupun aktivitas off-air dapat memperlihatkan kepada masyarakat bahwa radio masih hidup dan terus berkembang.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpelaku radio. Menurut Fabian, keberadaan komunitas MD menjadi salah satu kekuatan karena dapat mempertemukan pengarah musik dari berbagai karakter dan segmentasi radio.
“Yang mematikan radio adalah orang radio sendiri,” kata Fabian, mengutip pesan almarhum Erol Jonathan dari Suara Surabaya.
Menurutnya, forum dan komunitas radio seharusnya tidak digunakan untuk saling menunjukkan keunggulan, tetapi menjadi ruang berbagi pengalaman, strategi, serta keberhasilan yang dapat diterapkan oleh radio lain, termasuk radio lokal di berbagai daerah.

Sementara itu, Karin menjelaskan bahwa keberadaan radio masih mendapatkan perhatian dari industri musik. Hal tersebut terlihat dari keterlibatan para MD dalam forum bersama label serta kegiatan hearing session yang digelar dalam rangkaian agenda AMDI di Jakarta.
Menurut Karin, radio tetap memiliki keunggulan sebagai media promosi sekaligus edukasi musik karena MD tidak sekadar memutar lagu, tetapi memilih dan mengemas musik berdasarkan karakter pendengar masing-masing stasiun.
Peran tersebut juga membuat radio memiliki peluang memperkenalkan lagu yang belum dikenal luas kepada pendengar. Sebuah lagu yang belum menjadi hit dapat berkembang setelah mendapatkan ruang dan pengemasan yang tepat di radio.
Iyan Taufik menambahkan, proses kurasi musik di radio tidak hanya mempertimbangkan kualitas audio. MD juga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan lirik dan visual musik agar materi yang disiarkan sesuai dengan karakter serta ketentuan stasiun radio.

Menurut Iyan, materi musik yang diterima dari label umumnya telah tersedia dalam versi yang sesuai untuk radio. Namun, kondisi berbeda dapat ditemukan pada karya musisi independen. Karena itu, komunikasi dan edukasi antara MD dengan musisi menjadi penting.
Ia mencontohkan, ketika karya musisi lokal memiliki kualitas musik yang baik tetapi kualitas produksinya belum memadai, radio dapat memberikan masukan dan mengarahkan musisi tersebut agar karyanya semakin siap untuk diperdengarkan kepada publik.
“Kalau kita tidak menayangkan, bukan berarti tidak bagus. Kita edukasi,” ujarnya.
Iyan juga menilai radio mempunyai tanggung jawab dalam memperkenalkan beragam musik kepada masyarakat. Bahkan, radio dapat menjadi ruang bagi musisi lokal, komunitas musik kampus, hingga pelaku musik independen untuk membangun jejaring dengan industri yang lebih luas.
Dari sisi segmentasi, Anon mengungkapkan bahwa tugas MD menjadi semakin penting ketika sebuah radio memiliki karakter pendengar tertentu. Sebagai MD Radio Kosmonita yang menyasar segmen perempuan dan keluarga, pemilihan lagu harus mempertimbangkan keamanan lirik dan kesesuaian dengan karakter pendengar.
Sementara itu, Ilul menjelaskan bahwa Radio Elfara memiliki karakter sebagai radio hitmaker yang memberikan ruang bagi lagu-lagu baru. Bahkan, lagu yang baru dirilis dapat segera mendapatkan kesempatan untuk diperdengarkan kepada pendengar.
Karin menambahkan, perbedaan segmentasi membuat setiap radio memiliki strategi kurasi masing-masing. Radio tidak harus menggunakan formula yang sama karena karakter pendengar, format, dan idealisme setiap stasiun berbeda.
Tugas MD juga dituntut semakin luas seiring berkembangnya genre musik. Selain musik populer Indonesia dan mancanegara, MD harus mampu mengenali musik daerah, dangdut, campursari hingga berbagai genre baru yang muncul dari perpaduan sejumlah aliran musik.
Menurut para MD, kemampuan tersebut membutuhkan kepekaan, pengalaman mendengarkan musik, serta intuisi untuk membaca potensi sebuah lagu.

Dalam diskusi tersebut juga dijelaskan bahwa profesi Music Director tidak selalu mensyaratkan latar belakang pendidikan formal musik. Pengalaman sebagai pendengar, kepekaan terhadap musik, kemampuan melakukan kurasi, serta pemahaman terhadap karakter audiens menjadi bagian penting dalam menjalankan profesi tersebut.
Para MD juga menjelaskan perbedaan Music Director radio dengan Music Director dalam pertunjukan musik. Di radio, MD berperan mengkurasi dan menata musik serta membaca emosi pendengar. Sementara dalam pertunjukan, MD lebih banyak bertugas mengatur jalannya musik dan menjaga sinkronisasi penampilan musisi di atas panggung.
Ke depan, AMDI Malang Raya menyiapkan sejumlah gagasan untuk memperkuat ekosistem musik dan radio di Malang. Salah satunya adalah rencana menghadirkan kegiatan MD Fest atau kegiatan serupa yang menyasar kampus-kampus.
AMDI Malang Raya juga mendorong terciptanya ruang pertemuan informal antarpelaku radio melalui kegiatan nongkrong dan berbagi pengalaman lintasstasiun. Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat kolaborasi tanpa melihat batas kepemilikan maupun format masing-masing radio.
Dukungan dari pelaku industri musik juga mulai terbuka. Sejumlah label dan musisi disebut telah memberikan respons positif terhadap rencana kolaborasi tersebut.
Menutup perbincangan, para Music Director AMDI Malang Raya sepakat bahwa masa depan radio tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertahan masing-masing stasiun, tetapi juga oleh kemauan untuk bersatu, berkolaborasi, dan terus memberikan edukasi kepada pendengar serta musisi.
“Yang harus kita lakukan adalah bersatu. Kita membuktikan masih ada dan kita juga harus memberikan edukasi untuk semua musisi,” demikian salah satu penegasan dalam perbincangan OBRAS RRI Malang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....