Paradoc Film Perluas Kiprah dari Dokumenter menuju Film Fiksi

  • 06 Okt 2026 10:20 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Berawal dari kecintaan terhadap dunia film, Mada Ariya bersama pasangannya, Linda, membangun rumah produksi Paradoc Film. Ketertarikan Mada terhadap film tumbuh sejak duduk di bangku kuliah pada 2012 di Solo. Saat itu, ia lebih banyak menggarap film dokumenter yang mengangkat berbagai persoalan sosial dan lingkungan.

Paradoc Film kemudian resmi dibentuk pada 2016. Pada awal berdirinya, rumah produksi tersebut dijalankan secara sederhana oleh Mada dan Linda. Dalam proses produksi, keduanya melibatkan teman-teman secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan setiap proyek.

Perjalanan Paradoc Film di ranah dokumenter kemudian menghasilkan sejumlah karya yang cukup berkesan. Salah satunya film dokumenter Lakardowo Mencari Keadilan yang berhasil masuk nominasi Piala Citra. Dalam film tersebut, Linda dipercaya sebagai sutradara.

Selain itu, Paradoc Film juga mengangkat persoalan lingkungan melalui film dokumenter Take Back yang membahas isu sampah plastik. Film tersebut kemudian mendapat kesempatan diputar di sejumlah festival film di Eropa.

Pengalaman panjang menggarap film dokumenter akhirnya mendorong Mada dan Linda untuk memperluas eksplorasi ke film fiksi. Salah satu langkahnya dilakukan dengan mengikuti ajang Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST), sekaligus menjadi ruang bagi keduanya untuk mengembangkan karya fiksi secara mandiri.

Menurut Mada, proses membuat film fiksi memberikan tantangan yang berbeda dibandingkan dokumenter. Jika dokumenter banyak bertumpu pada riset serta berbagai temuan di lapangan, film fiksi menuntut pembuatnya membangun cerita sejak awal, mulai dari karakter, suasana, latar, hingga alur yang saling terhubung.

“Di sinilah letak tantangannya. Saya harus menerjemahkan ide yang berasal dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari menjadi sebuah naskah yang memiliki struktur cerita. Jadi, bukan hanya apa yang kita lihat, tetapi bagaimana pengalaman itu bisa diolah menjadi cerita yang memiliki pesan,” ujar Mada saat menjadi narasumber di Pro 2 RRI Malang, Selasa (6/10/2026).

Naskah yang mereka ikutsertakan dalam ajang tersebut berangkat dari kejadian sederhana yang ditemui Mada di lingkungan sekitar. Ia melihat anak-anak justru sibuk berebut nasi kotak setelah salat Jumat, alih-alih fokus menjalankan ibadah.

Pengamatan sederhana itu kemudian membuat Mada berpikir lebih jauh mengenai bagaimana kebiasaan kecil dapat berkaitan dengan pembentukan karakter dan nilai moral seseorang.

“Dari situ saya berpikir, apakah kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan sejak anak-anak nantinya bisa menjadi persoalan moral ketika mereka tumbuh dewasa. Hal-hal yang terlihat sederhana sebenarnya bisa menjadi awal dari pembentukan karakter seseorang,” lanjutnya.

Bagi Mada, keterlibatan dalam ACFFEST menjadi pengalaman penting bagi Paradoc Film karena untuk pertama kalinya mereka mencoba mengikuti kompetisi film fiksi dengan karya yang dikembangkan secara mandiri. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi proses belajar untuk memahami bagaimana gagasan yang selama ini mereka temukan dalam realitas dokumenter dapat diterjemahkan ke dalam bahasa film fiksi.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan bagi Paradoc Film untuk semakin berani mengembangkan produksi film fiksi. Meski demikian, perjalanan di dunia dokumenter tetap menjadi bagian penting dari identitas mereka dalam melihat berbagai persoalan di sekitar.

“Kami ingin terus mencoba film fiksi, tetapi pengalaman di dokumenter tetap menjadi bekal. Justru dari dokumenter kami belajar melihat persoalan, mengamati lingkungan, dan menemukan cerita. Tinggal bagaimana pengalaman itu diterjemahkan ke dalam bentuk fiksi,” pungkas Mada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....