Gelombang Lokal 2026 Angkat Potensi Musisi Malang

  • 10 Jun 2026 09:00 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Gelombang Lokal Malang 2026 sukses mempertemukan musisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif dalam satu ruang kolaborasi yang merayakan keberagaman musik independen Kota Malang. Acara yang digelar di FBN Artisantz Coffee & Eatery, Malang, pada 22 Mei 2026 itu menghadirkan sejumlah musisi nasional dan lokal serta program kurasi bagi band-band potensial asal Malang.

Selain menampilkan penampilan musik dari Bluewaves, Eastcape, dan Rumah Sakit, Gelombang Lokal 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung seperti Talkshow with Curator dan Zine Showcase. Program tersebut menjadi wadah diskusi, jejaring, serta pertukaran gagasan antara musisi, kreator, komunitas, dan penikmat musik.

Salah satu agenda utama dalam penyelenggaraan tahun ini adalah Band Submission, yakni program kurasi yang membuka kesempatan bagi musisi dan band asal Malang untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik yang lebih luas. Puluhan band dari berbagai genre mengikuti proses seleksi yang dinilai oleh tiga kurator, yakni Fajrin Nitipraja selaku Founder Pop Rising, Jeff Winanda sebagai Music Publicist dan penulis Terpapar Musik, serta Jul Muttaqien, vokalis Eastcape.

Monkey Rude sukses mencuri perhatian dalam Gelombang Lokal Malang 2026. Band asal Malang tersebut masuk jajaran tiga band terpilih hasil kurasi Band Submission yang melibatkan pelaku industri musik nasional dan lokal.(Foto: Shockss Record)

Dari proses seleksi tersebut, terpilih tiga band terbaik yang dinilai mampu merepresentasikan perkembangan musik independen Malang saat ini, yakni Merah, Monkey Rude, dan Silly Fragments.

Band Merah terpilih berkat pendekatan alternative rock modern yang dinilai relevan dengan selera generasi muda. Melalui lagu berjudul "Bara", Merah menghadirkan refleksi tentang perjalanan hidup yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia, dengan pesan keberanian untuk terus melangkah menghadapi berbagai tantangan.

"Perasaan kami sangat senang. Ini salah satu panggung terbaik Merah. Gelombang Lokal bukan hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga membuka ruang diskusi dan pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi musisi," kata Juang Pratama, vokalis dan bassist Merah.

Sementara itu, Monkey Rude menjadi representasi band yang tumbuh bersama perkembangan skena musik lokal selama lebih dari satu dekade. Band yang terbentuk pada 2012 di wilayah timur Malang tersebut dikenal melalui musik ska reggae yang enerjik dan dekat dengan semangat komunitas.

Melalui lagu "Jangan Harap", Monkey Rude mengangkat tema pengkhianatan dalam hubungan sekaligus mengingatkan pentingnya menghargai ketulusan seseorang sebelum semuanya terlambat.

"Gelombang Lokal menjadi ruang yang sangat penting bagi musisi lokal. Acara seperti ini membuktikan bahwa karya-karya dari Malang masih memiliki tempat dan apresiasi yang besar dari masyarakat," ujar vokalis Monkey Rude, Indrajid.

Silly Fragments memukau penonton dengan nuansa dream pop yang ringan dan emosional saat tampil di Gelombang Lokal Malang 2026. Band pendatang baru asal Malang ini dinilai memiliki potensi besar dalam perkembangan skena musik independen kota tersebut. (Foto: Shockss Record)

Di sisi lain, Silly Fragments menjadi wajah baru generasi muda dalam daftar Top 3 Band Submission. Band yang beranggotakan empat perempuan itu menarik perhatian kurator melalui karakter dream pop dan alternative pop yang segar serta dekat dengan pengalaman remaja masa kini.

Lewat single debut berjudul "And Remains", Silly Fragments mengisahkan patah hati remaja yang dikemas dalam nuansa musik ceria dan dreamy.

"Walau kami punya kesibukan masing-masing, Silly Fragments selalu menjadi tempat kami pulang, beristirahat, dan tumbuh bersama. Musik menjadi ruang untuk bercerita sekaligus belajar banyak hal dalam perjalanan kami sebagai band," ujar Amo, vokalis dan gitaris Silly Fragments.

Penyelenggara menilai terpilihnya Merah, Monkey Rude, dan Silly Fragments menjadi gambaran bahwa perkembangan musik Malang tidak berjalan dalam satu warna. Alternative rock, ska reggae, hingga dream pop mampu tumbuh berdampingan dalam ekosistem yang sehat dan saling mendukung.

Melalui Gelombang Lokal 2026, semangat kolaborasi dan keberagaman tersebut kembali diperkuat melalui sebuah panggung yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga ruang dialog, jejaring, dan apresiasi bagi pelaku kreatif lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....