Perjalanan Panjang Lady Rocker Indonesia, Sylvia Saartje

  • 27 Apr 2026 15:28 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Sosok legendaris musik rock Indonesia, Sylvia Saartje, membagikan kisah panjang perjalanan hidup dan kariernya dalam talkshow Ruang Rindu spesial Kota Malang yang disiarkan di Pro 1 RRI seluruh Indonesia.

Dalam perbincangan yang dipandu Ita Purnamasari dan Rulli Suprayugo tersebut, Sylvia mengungkap bahwa perjalanan menjadi Lady Rocker pertama di Indonesia bukanlah hal yang mudah.

“Perjalanan saya panjang sekali, penuh tantangan. Tapi dari semua itu saya belajar untuk tetap kuat dan tidak menyerah,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Nama Sylvia Saartje dikenal luas sejak era 1970-an sebagai pelopor perempuan di musik rock Indonesia. Di tengah dominasi musisi laki-laki saat itu, ia justru mampu menunjukkan eksistensinya.

“Dulu perempuan di musik rock masih sedikit. Tapi saya tidak mau kalah, saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa,” katanya.

Sejak muda, Sylvia mengaku sempat menghadapi penolakan dari keluarga, terutama sang ibu yang tidak mengizinkannya menyanyikan lagu-lagu rock.

“Ibu sebenarnya ingin saya di jalan yang baik. Waktu itu saya merasa dibatasi, tapi sekarang saya mengerti itu adalah bentuk perhatian,” tuturnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat dirinya tampil di Bandung ketika masih berstatus pelajar. Ia harus berangkat sendiri dan tetap membagi waktu antara panggung dan pendidikan.

“Saya tampil hari Sabtu, lalu harus pulang karena hari Senin sudah ujian. Waktu itu saya menyanyikan lagu ‘The Great Gig in the Sky’ dan respons penonton luar biasa,” kenangnya.

Karier profesionalnya dimulai pada 1978 melalui album Biarawati yang menjadi pintu masuk ke industri rekaman nasional. Sejak saat itu, ia terus menghasilkan karya dan dikenal luas, termasuk lewat lagu “Jakarta Blue Jeansku”.

Namun, perjalanan tersebut juga diwarnai ujian berat. Sylvia mengenang momen kehilangan sang ibu pada 1987 saat dirinya sedang berada di luar kota untuk mengurus sebuah acara.

“Itu masa yang sangat berat. Saya hanya bisa berdoa dan berusaha tetap tenang supaya bisa segera pulang,” ujarnya.

Meski begitu, Sylvia tetap melanjutkan langkahnya di dunia musik. Ia bahkan terus menyampaikan pesan-pesan positif melalui karya-karyanya.

“Lewat musik, saya ingin menyampaikan pesan cinta dan perdamaian. Kita ini satu,” katanya.

Kini, setelah lebih dari setengah abad berkarya, Sylvia Saartje tetap memandang musik sebagai bagian penting dalam hidupnya.

“Musik itu sudah jadi napas saya. Selama masih diberi kesempatan, saya akan terus berkarya,” pungkasnya.

Kehadiran Sylvia dalam Ruang Rindu tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga menghadirkan inspirasi tentang keteguhan hati, keberanian perempuan, dan semangat untuk terus melangkah di tengah berbagai tantangan hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....