Film Ayah Ini Arahnya ke Mana Ya? Angkat Isu Fatherless
- 13 Apr 2026 14:19 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah secara emosional dalam keluarga menjadi salah satu isu yang diangkat dalam film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?. Film yang diadaptasi dari novel karya Khoirul Trian ini berupaya membuka percakapan tentang luka emosional yang kerap tidak terlihat, tetapi memiliki dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Meski tidak selalu tampak dari luar, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang mencari rasa aman, membangun hubungan, hingga memaknai dirinya sendiri ketika dewasa.
Film yang disutradarai Kuntz Agus tersebut menggambarkan dinamika keluarga yang terlihat utuh dari luar, namun menyimpan berbagai persoalan emosional yang tidak pernah benar-benar diungkapkan. Dalam cerita, sosok ayah bernama Yudi yang diperankan Dwi Sasono digambarkan selalu hadir secara fisik di rumah, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam kehidupan emosional anak-anaknya. Kondisi ini dalam psikologi dikenal sebagai emotional absence, yaitu ketidakhadiran secara emosional meskipun figur ayah tetap berada di lingkungan keluarga.
Salah satu karakter yang menjadi sorotan dalam film ini adalah Dira yang diperankan Mawar Eva de Jongh. Ia digambarkan sebagai anak sulung yang tumbuh menjadi pribadi mandiri dan terbiasa menyelesaikan masalah sendiri. Kondisi tersebut mencerminkan fenomena parentification, yaitu situasi ketika seorang anak secara tidak sadar mengambil peran dan tanggung jawab yang seharusnya menjadi milik orang tua. Dalam banyak kasus, anak sulung sering kali menjadi figur yang harus lebih cepat dewasa karena situasi keluarga yang menuntut demikian.
Di sisi lain, karakter ibu bernama Lia yang diperankan Unique Priscilla menunjukkan gambaran seorang ibu yang bekerja keras menjaga keluarga tetap berjalan. Ia menjadi tulang punggung keluarga sekaligus berusaha menjaga agar kondisi rumah tangga terlihat baik-baik saja di hadapan anak-anaknya. Gambaran ini merepresentasikan banyak keluarga yang menghadapi dinamika serupa, di mana salah satu orang tua memikul beban besar untuk mempertahankan stabilitas keluarga.
Melalui cerita dua bersaudara yang berusaha menemukan arah hidup mereka sendiri, film ini berupaya membuka ruang diskusi mengenai fenomena fatherless yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka. Film ini tidak hadir untuk menyalahkan siapa pun, melainkan mengajak penonton memahami bahwa setiap anggota keluarga dapat membawa luka masing-masing. Dengan mengangkat isu tersebut, Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih peka terhadap pentingnya kehadiran emosional orang tua dalam proses tumbuh kembang anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....