Ruwahan, Tradisi Jawa Sambut Ramadan dengan Doa

  • 07 Feb 2026 11:56 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa masih melestarikan tradisi ruwahan atau nyadran sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini dilakukan dengan mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal serta memperkuat nilai kebersamaan melalui sedekah dan slametan.

Budayawan dari Sanggar Budaya Sangguran, Siswanto Galuh Aji, menjelaskan bahwa ruwahan merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa atau bertepatan dengan bulan Syaban dalam kalender Hijriah.

“Ruwahan adalah bentuk pengingat bahwa manusia tidak pernah terlepas dari sejarah dan leluhurnya. Ini bukan sekadar ritual, tapi juga sarana menyambung nilai spiritual dan budaya,” katanya kepada RRI, Sabtu (7/2/2026)

Menurut Siswanto, prosesi ruwahan umumnya diawali dengan membersihkan makam leluhur atau nyekar, dilanjutkan doa bersama dan tahlilan. Kegiatan ini menjadi simbol penghormatan sekaligus refleksi diri sebelum memasuki bulan puasa.

“Membersihkan makam bukan hanya soal fisik, tapi juga simbol membersihkan hati sebelum Ramadan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tradisi ruwahan juga diisi dengan kenduri atau slametan sebagai wujud rasa syukur dan sedekah kepada sesama. “Nilai gotong royong dan kebersamaan inilah yang membuat ruwahan tetap relevan hingga kini,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....