Antara Debu Buku dan Gempuran Digital, Pasar Buku Velodrome Masih Bertahan
- 10 Mei 2026 13:53 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tumpukan novel lawas, majalah tua, hingga buku pelajaran memenuhi kios-kios sederhana di Pasar Buku Velodrome Kota Malang. Aroma kertas lama bercampur debu khas buku bekas maupun lawas masih terasa kuat di lorong sempit yang kini tak lagi seramai dulu.
Di salah satu kios bernama “Manyar Buku”, Amrullah sibuk menata buku-buku yang sebagian usianya bahkan lebih tua dari para pembelinya. Sudah lebih dari satu dekade ia bertahan menjaga denyut pasar buku yang perlahan tergerus zaman.
“Dulu kami pindahan dari sekitar Stasiun Kota Baru, Jalan Trunojoyo. Sekitar tahun 2010 dipindah ke sini semua,” katanya saat ditemui RRI, Minggu (10/5/2026) pagi.
Kala itu, sekitar 70 kios buku menempati kawasan Velodrome. Pasar buku ini sempat menjadi surga bagi pemburu bacaan murah di Malang. Namun seiring waktu, jumlah kios terus menyusut. Kini hanya tersisa sekitar 15 penjual yang masih bertahan.
Di salah satu kios bernama “Manyar Buku”, Amrullah sibuk menata buku-buku yang sebagian usianya bahkan lebih tua dari para pembelinya. Sudah lebih dari satu dekade ia bertahan menjaga denyut pasar buku yang perlahan tergerus zaman.
“Dulu kami pindahan dari sekitar Stasiun Kota Baru, Jalan Trunojoyo. Sekitar tahun 2010 dipindah ke sini semua,” katanya saat ditemui RRI, Minggu (10/5/2026) pagi.
Kala itu, sekitar 70 kios buku menempati kawasan Velodrome. Pasar buku ini sempat menjadi surga bagi pemburu bacaan murah di Malang. Namun seiring waktu, jumlah kios terus menyusut. Kini hanya tersisa sekitar 15 penjual yang masih bertahan.
“Sebagian beralih menjadi toko kopi, sebagian lagi jadi toko kelontong,” ujar pria 45 tahun ini.
Menurut Amrullah, perubahan mulai terasa sejak tren belanja online dan penggunaan gawai semakin masif. Apalagi setelah pandemi Covid-19, minat masyarakat datang langsung ke pasar buku sempat turun drastis.
“Mulai 2018 itu pengaruh online besar sekali. Orang lebih banyak cari bacaan di HP,” tuturnya.
Meski demikian, ia melihat secercah harapan dalam dua tahun terakhir. Perlahan, anak muda mulai kembali datang mencari buku fisik.
“Alhamdulillah mulai 2024 ini anak-anak muda mulai banyak baca lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Menariknya, mayoritas pengunjung saat ini justru berasal dari kalangan generasi muda gen Z. Novel menjadi jenis buku yang paling banyak dicari, meski buku pelajaran, komik, hingga majalah lawas juga tetap memiliki peminat tersendiri.
Di kios-kios itu, pembeli bahkan masih bisa menemukan buku-buku terbitan lama dari era 1950-an. Harganya pun relatif terjangkau, mulai Rp15 ribu tergantung jenis dan kondisi buku.
Namun bagi Amrullah, bertahan menjual buku bukan semata soal keuntungan. Ada kegelisahan yang ingin ia lawan, yaitu hilangnya budaya membaca di tengah dominasi layar digital.
“Baca buku sama HP itu lain. Daya ingat anak juga beda,” katanya.
Ia percaya membaca buku fisik memberi pengalaman yang lebih utuh dibanding membaca sekilas melalui telepon genggam.
“Kalau di HP kadang anak cuma baca sepintas. Kalau buku kan dibaca keseluruhan,” lanjutnya.
Karena itu, Amrullah berharap pemerintah kembali memberi perhatian pada keberadaan pasar buku offline yang kini semakin terpinggirkan. Menurutnya, minimnya promosi membuat banyak masyarakat bahkan tidak mengetahui keberadaan pasar buku Velodrome.
“Dulu katanya mau dipromosikan, tapi sampai sekarang kurang,” ujarnya.
Ia membayangkan pasar buku dapat kembali dihidupkan melalui dukungan promosi, kegiatan literasi, hingga kolaborasi dengan dunia pendidikan.
“Kalau bisa budaya membaca ini tetap dijaga. Jangan sampai hilang,” katanya.
Untuk bertahan, para pedagang kini mulai beradaptasi dengan menjual buku secara daring melalui media sosial dan marketplace. Meski begitu, Amrullah tetap percaya pengalaman berburu buku secara langsung tidak bisa tergantikan.
Menurut Amrullah, perubahan mulai terasa sejak tren belanja online dan penggunaan gawai semakin masif. Apalagi setelah pandemi Covid-19, minat masyarakat datang langsung ke pasar buku sempat turun drastis.
“Mulai 2018 itu pengaruh online besar sekali. Orang lebih banyak cari bacaan di HP,” tuturnya.
Meski demikian, ia melihat secercah harapan dalam dua tahun terakhir. Perlahan, anak muda mulai kembali datang mencari buku fisik.
“Alhamdulillah mulai 2024 ini anak-anak muda mulai banyak baca lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Menariknya, mayoritas pengunjung saat ini justru berasal dari kalangan generasi muda gen Z. Novel menjadi jenis buku yang paling banyak dicari, meski buku pelajaran, komik, hingga majalah lawas juga tetap memiliki peminat tersendiri.
Di kios-kios itu, pembeli bahkan masih bisa menemukan buku-buku terbitan lama dari era 1950-an. Harganya pun relatif terjangkau, mulai Rp15 ribu tergantung jenis dan kondisi buku.
Namun bagi Amrullah, bertahan menjual buku bukan semata soal keuntungan. Ada kegelisahan yang ingin ia lawan, yaitu hilangnya budaya membaca di tengah dominasi layar digital.
“Baca buku sama HP itu lain. Daya ingat anak juga beda,” katanya.
Ia percaya membaca buku fisik memberi pengalaman yang lebih utuh dibanding membaca sekilas melalui telepon genggam.
“Kalau di HP kadang anak cuma baca sepintas. Kalau buku kan dibaca keseluruhan,” lanjutnya.
Karena itu, Amrullah berharap pemerintah kembali memberi perhatian pada keberadaan pasar buku offline yang kini semakin terpinggirkan. Menurutnya, minimnya promosi membuat banyak masyarakat bahkan tidak mengetahui keberadaan pasar buku Velodrome.
“Dulu katanya mau dipromosikan, tapi sampai sekarang kurang,” ujarnya.
Ia membayangkan pasar buku dapat kembali dihidupkan melalui dukungan promosi, kegiatan literasi, hingga kolaborasi dengan dunia pendidikan.
“Kalau bisa budaya membaca ini tetap dijaga. Jangan sampai hilang,” katanya.
Untuk bertahan, para pedagang kini mulai beradaptasi dengan menjual buku secara daring melalui media sosial dan marketplace. Meski begitu, Amrullah tetap percaya pengalaman berburu buku secara langsung tidak bisa tergantikan.
“Promosi di marketplace ternyata cukup membantu, banyak pembeli yang beli secara online. Sebulan ini saya juga aktif posting di medsos, terbukti banyak anak muda yang mulai tertarik kesini,” kata dia.
Setiap Minggu pagi hingga sore, perlahan pengunjung kembali berdatangan. Sebagian mencari novel favorit, sebagian lagi sekadar menikmati suasana nostalgia di tengah rak-rak buku lawas.
Setiap Minggu pagi hingga sore, perlahan pengunjung kembali berdatangan. Sebagian mencari novel favorit, sebagian lagi sekadar menikmati suasana nostalgia di tengah rak-rak buku lawas.
“Kalau Minggu saya buka mulai mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Kalau Senin sampai Sabtu mulai jam 12 siang sampai jam 5 sore,” ungkap Amrullah.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, Pasar Buku Velodrome mungkin tak lagi seramai dulu. Namun di tempat itu, semangat menjaga budaya membaca masih terus hidup, dijaga oleh orang-orang seperti Amrullah yang memilih bertahan di antara halaman-halaman lama yang belum selesai dibaca zaman.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, Pasar Buku Velodrome mungkin tak lagi seramai dulu. Namun di tempat itu, semangat menjaga budaya membaca masih terus hidup, dijaga oleh orang-orang seperti Amrullah yang memilih bertahan di antara halaman-halaman lama yang belum selesai dibaca zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....