Menyusuri Jejak Sejarah di Museum Bank Indonesia
- 24 Sep 2025 21:13 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Langkah kaki bergema pelan di lantai marmer dingin yang berkilau. Di balik pintu tinggi bergaya kolonial, Museum Bank Indonesia menyimpan cerita panjang tentang keuangan Nusantara. Gedung megah bergaya neo-klasik ini berdiri kokoh di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 3, Pinangsia, Jakarta Barat, dan sejak diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 19 Juli 2009 menjadi ruang belajar sejarah yang hidup.
Begitu memasuki aula utama, pengunjung langsung disapa edukator museum, Trikanti Wigati. Dengan suara tenang ia mengajak setiap rombongan berkeliling.
“Kami membawa pengunjung menyusuri sejarah, bukan sekadar melihat benda mati,” ujarnya.
Aura hangat dan ramah membuat pengalaman tur terasa akrab. Ruang pertama yang disinggahi adalah replika penyimpanan rempah-rempah. Rak kayu tinggi menyimpan kayu manis, pala, dan cengkih yang seolah menguar aroma masa lalu.
“Rempah-rempah ini dulu lebih mahal daripada emas,” jelas Trikanti sambil menunjuk deretan peti kayu.
Tak jauh dari situ berdiri miniatur kapal pinisi dengan dayung panjangsimbol jalur niaga laut Nusantara.

Ornamen kaca yang menghiasi d museum bank Indonesia. (Foto: RRI Malang/Awang)
Di balik kaca, sejarah uang Indonesia mulai berbicara. Koleksi Oeang Republik Indonesia (ORI) yang diterbitkan pada masa awal kemerdekaan tersimpan rapi. “ORI diedarkan diam-diam,” kata Trikanti.
“Saat itu masih beredar uang Jepang dan Belanda. Pemerintah harus membagikannya secara sembunyi-sembunyi agar masyarakat mau menerima,” imbuhnya.
Cerita ini membuat pengunjung terdiam membayangkan betapa rapuhnya ekonomi bangsa di awal kemerdekaan.
Tur berlanjut ke ruang Fun Fact. Dinding penuh ilustrasi menceritakan asal-usul penyebutan rupiah, uang, dan duit di Indonesia. Tawa kecil terdengar saat pengunjung menemukan istilah yang mereka kenal sehari-hari. Fakta-fakta ringan ini menghidupkan sejarah yang sering dianggap kaku.
Di ruang berikutnya tersimpan uang kuno dari masa kerajaan. Yang paling menarik perhatian adalah uang kain atau kampua/bida yang digunakan pada abad ke-14. Uang barang ini tidak memiliki nominal, tetapi nilainya diukur sesuai kebutuhan. Untuk membeli satu telur, misalnya, kainnya harus seukuran telapak tangan raja.

Uang kain atau kampua/bida yang digunakan pada abad ke-14. (Foto: RRI Malang/Awang)
Bangunan Museum Bank Indonesia sendiri menyimpan kisah panjang. Sebelum menjadi kantor bank, pada abad ke-17 lokasinya adalah gereja Protestan yang kemudian dibongkar pada 1628 untuk menempatkan meriam ketika pasukan Sultan Agung menyerang Batavia. Jejak pergolakan politik dan ekonomi berpadu di sini.
Pada 1828, Belanda membangun De Javasche Bank di tempat yang sama. Setelah Indonesia merdeka, bank ini dinasionalisasi dan berubah menjadi Bank Indonesia. Dari sinilah sejarah lembaga keuangan negara dimulai, bergerak dari masa kolonial ke kemerdekaan.
Dulu, De Javasche Bank menempati bangunan bekas rumah sakit Binnenhospitaal di dalam tembok kota Batavia, kawasan pelabuhan yang ramai oleh kapal dagang dari seluruh dunia. Gudang-gudang rempah, kopi, teh, dan kain cita memenuhi dermaga. Keuntungan perdagangan besar-besaran ini ikut mengalir melalui De Javasche Bank.
Seiring meningkatnya aktivitas perbankan, gedung ini mengalami empat kali renovasi besar antara 1909 hingga 1933. Rumah sakit lama hilang, digantikan bangunan megah karya arsitek Ed. Cuypers yang kita lihat sekarang. Sentuhan modern berpadu dengan kemegahan kolonial.
Empat sayap bangunan saling menyambung membentuk denah segi empat dengan halaman terbuka di tengahnya. Pilar-pilar tinggi, ornamen klasik, dan pengaruh lokal menciptakan suasana monumental sekaligus akrab. Museum ini bukan hanya menampilkan koleksi benda, tetapi juga kisah perjalanan bangsa yang dipandu para edukator.

Ornamen pilar yang menghiasi sejumlah pilar yang pernah dibuat dan mengandung filosofi sejarah. (Foto: RRI Malang/Awang)
Bagi pengunjung, perjalanan di Museum Bank Indonesia bukan sekadar wisata edukasi. Ini adalah pengalaman meresapi denyut ekonomi bangsa sejak masa kerajaan, kolonial, kemerdekaan, hingga era modern. Di setiap sudutnya, sejarah terasa hidup mengajarkan bahwa uang bukan sekadar alat tukar, melainkan cermin perjalanan dan identitas bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....