Cissipizza, Berawal dari Hobi Makan Pizza

  • 22 Sep 2026 15:54 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang- Berawal dari kegemaran menyantap pizza, Dyana Melati, owner dari Cissipizza mencoba membuat sendiri pizza dengan karakter thin crust pada 2013. Dari dapur rumah, hasil percobaan itu kemudian ditawarkan kepada keluarga, saudara, dan teman melalui Facebook serta aplikasi pengirim pesan (BBM). Respons positif dari orang-orang terdekat perlahan membuat Dyana melihat peluang untuk mengembangkan pizza buatannya menjadi usaha kuliner yang terus berkembang hingga saat ini.

Dyana mengatakan, sejak awal berdiri di tahun 2013 Cissipizza memang membawa konsep Italian pizza dengan karakter adonan yang tipis dan penggunaan keju yang melimpah. Pilihan tersebut sekaligus menjadi tantangan karena masyarakat Indonesia umumnya lebih terbiasa dengan makanan yang mengenyangkan seperti nasi maupun pizza dengan roti yang lebih tebal. “Pizza thin crust itu juga menjadi tantangan, ada pro dan kontra. Karena Indonesia identik makan berat seperti nasi, jadi saat makan pizza yang tipis itu tahu-tahu habis,” ujar Dyana dalam program UMKM Bicara, Senin (21/9/2026)

Menurutnya, karakter thin crust tersebut kemudian dipertahankan sebagai identitas Cissipizza. Ia ingin menghadirkan pizza bergaya Italia yang tetap bisa dinikmati masyarakat dari berbagai kalangan. “Ciri khasnya Italian pizza yang otentik, dengan karakter thin crust dan kami hadir untuk segmen middle low atau menengah ke bawah. Harganya sangat terjangkau, sepuluh ribu sudah dapat satu loyang,” katanya. Konsep tersebut juga membuat Cissipizza ingin lebih dekat dengan masyarakat sebagai produk street food yang mudah dijangkau.

Untuk mempertahankan minat konsumen, Dyana tidak berhenti melakukan inovasi menu. Ia kerap meminta masukan pelanggan mengenai rasa maupun topping yang diinginkan, kemudian menjadikannya bahan pertimbangan untuk membuat produk baru. “Kadang kami minta feedback dari customer. Dari situ kami bikin inovasi, misalnya untuk seasonal ada pizza manis atau topping pizza sesuai permintaan customer,” tuturnya. Menu yang mendapat respons positif selanjutnya diperkenalkan melalui media sosial.

Dalam proses pengembangan produk, tidak semua eksperimen ternyata langsung berhasil. Dyana pernah mencoba menggunakan bahan baku asli Italia dan keju premium, tetapi produk tersebut ternyata sulit diterima karena harga jualnya menjadi terlalu tinggi. “Kami pernah coba bahan baku asli Italia, keju yang premium, burrata yang meleleh. Tapi ternyata tidak sesuai ekspektasi karena harganya jadi terlalu mahal,” ungkapnya. Sebaliknya, harga yang terlalu murah juga menurutnya tidak selalu menjadi pilihan konsumen, sehingga diperlukan keseimbangan antara kualitas dan harga.

Perjalanan Cissipizza kemudian semakin berkembang setelah produk frozen menjadi salah satu solusi ketika pandemi 2020 mengubah pola konsumsi masyarakat. Dari yang semula mengandalkan outlet, Cissipizza mulai memperluas pasar melalui produk frozen, sekaligus tetap mempertahankan konsep Italian pizza. “Saat pandemi, pizza frozen menjadi solusi. Dari outlet kemudian kami scale up ke frozen,” kata Dyana. Selain pizza, Cissipizza kini juga mengembangkan sejumlah produk lain seperti pasta, mac and cheese, dan mozzarella stick, serta menghadirkan cooking class dan Pizza Date sebagai bagian dari pengalaman kuliner bagi pelanggan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....