Peta Digital Bantu Wisatawan Temukan UMKM Kampung Sanan
- 01 Sep 2026 11:21 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang – Pengunjung Kampung Sentra Industri Tempe Sanan Kota Malang, kini dapat lebih mudah menemukan rumah produksi dan pelaku UMKM yang berada di dalam kawasan permukiman. Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan sistem penunjuk arah yang terintegrasi dengan pemetaan digital.
Kampung Sanan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra industri keripik tempe di Kota Malang. Namun, keberadaan rumah produksi yang tersebar di sejumlah gang membuat sebagian lokasi usaha tidak mudah ditemukan, terutama oleh pengunjung yang baru pertama kali datang.
Persoalan tersebut menjadi perhatian tim pengabdian kepada masyarakat UM yang diketuai Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd., bersama Prof. Dr. Aripriharta, M.T., Prof. Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd., Mistianah, dan Natasya Adiba Zahra.
Melalui program bertajuk “Integrasi Sign System Fisik dan Digital Mapping untuk Meningkatkan Visibilitas Produk Unggulan di Kampung Sentra Industri Tempe Sanan”, tim menghadirkan papan penunjuk arah yang dilengkapi QR Code.
Ketua pelaksana program, Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. mengatakan, sistem tersebut dibuat untuk menjawab persoalan navigasi sekaligus membantu pengunjung menemukan pelaku usaha yang lokasinya tidak berada di jalan utama.
“Kampung Sanan memiliki potensi besar sebagai sentra industri dan destinasi eduwisata. Namun, tidak semua rumah produksi berada di lokasi yang mudah ditemukan,” ungkapnya, Selasa (1/9/2026).
Dengan memindai QR Code pada papan penunjuk, pengunjung dapat mengakses peta interaktif melalui perangkat digital. Peta tersebut memberikan informasi lokasi rumah produksi dan produk yang tersedia sehingga pengunjung dapat menentukan tujuan secara lebih mandiri.
“Penggunaan sistem tersebut juga diharapkan memberikan kesempatan yang lebih merata bagi pelaku UMKM untuk dikenal konsumen,” ujarnya.
Selama ini, pelaku usaha yang lokasinya berada di dalam gang berpotensi lebih sulit ditemukan dibandingkan usaha yang berada di kawasan jalan utama. Dengan informasi lokasi yang terpetakan secara digital, konsumen dapat mengetahui keberadaan berbagai rumah produksi di kawasan Sanan.
“Melalui integrasi sign system fisik dan digital mapping, kami berupaya membantu pengunjung menemukan lokasi UMKM dengan lebih mudah sekaligus memberikan peluang yang lebih merata bagi para pelaku usaha untuk dikenal,” katanya.
Sistem tersebut menggabungkan petunjuk fisik di lapangan dengan informasi digital. Pendekatan ini dinilai sesuai dengan karakter Kampung Sanan yang memiliki jaringan gang dan rumah produksi yang tersebar.
Siti menegaskan, pemanfaatan teknologi tidak ditujukan untuk mengubah karakter lokal kawasan Sanan. Teknologi justru digunakan untuk membantu masyarakat dan pengunjung mengakses potensi yang sudah berkembang di kawasan tersebut.
“Teknologi bukan untuk menggantikan tradisi yang sudah menjadi identitas Kampung Sanan, tetapi untuk mendukung dan memperkuatnya,” jelasnya.
Kampung Sanan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra industri keripik tempe di Kota Malang. Namun, keberadaan rumah produksi yang tersebar di sejumlah gang membuat sebagian lokasi usaha tidak mudah ditemukan, terutama oleh pengunjung yang baru pertama kali datang.
Persoalan tersebut menjadi perhatian tim pengabdian kepada masyarakat UM yang diketuai Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd., bersama Prof. Dr. Aripriharta, M.T., Prof. Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd., Mistianah, dan Natasya Adiba Zahra.
Melalui program bertajuk “Integrasi Sign System Fisik dan Digital Mapping untuk Meningkatkan Visibilitas Produk Unggulan di Kampung Sentra Industri Tempe Sanan”, tim menghadirkan papan penunjuk arah yang dilengkapi QR Code.
Ketua pelaksana program, Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. mengatakan, sistem tersebut dibuat untuk menjawab persoalan navigasi sekaligus membantu pengunjung menemukan pelaku usaha yang lokasinya tidak berada di jalan utama.
“Kampung Sanan memiliki potensi besar sebagai sentra industri dan destinasi eduwisata. Namun, tidak semua rumah produksi berada di lokasi yang mudah ditemukan,” ungkapnya, Selasa (1/9/2026).
Dengan memindai QR Code pada papan penunjuk, pengunjung dapat mengakses peta interaktif melalui perangkat digital. Peta tersebut memberikan informasi lokasi rumah produksi dan produk yang tersedia sehingga pengunjung dapat menentukan tujuan secara lebih mandiri.
“Penggunaan sistem tersebut juga diharapkan memberikan kesempatan yang lebih merata bagi pelaku UMKM untuk dikenal konsumen,” ujarnya.
Selama ini, pelaku usaha yang lokasinya berada di dalam gang berpotensi lebih sulit ditemukan dibandingkan usaha yang berada di kawasan jalan utama. Dengan informasi lokasi yang terpetakan secara digital, konsumen dapat mengetahui keberadaan berbagai rumah produksi di kawasan Sanan.
“Melalui integrasi sign system fisik dan digital mapping, kami berupaya membantu pengunjung menemukan lokasi UMKM dengan lebih mudah sekaligus memberikan peluang yang lebih merata bagi para pelaku usaha untuk dikenal,” katanya.
Sistem tersebut menggabungkan petunjuk fisik di lapangan dengan informasi digital. Pendekatan ini dinilai sesuai dengan karakter Kampung Sanan yang memiliki jaringan gang dan rumah produksi yang tersebar.
Siti menegaskan, pemanfaatan teknologi tidak ditujukan untuk mengubah karakter lokal kawasan Sanan. Teknologi justru digunakan untuk membantu masyarakat dan pengunjung mengakses potensi yang sudah berkembang di kawasan tersebut.
“Teknologi bukan untuk menggantikan tradisi yang sudah menjadi identitas Kampung Sanan, tetapi untuk mendukung dan memperkuatnya,” jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....