Felisha Kembangkan Fojy Soymilk lewat Inovasi dan Ketekunan

  • 07 Agt 2026 18:15 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Ketertarikan terhadap dunia bisnis sejak duduk di bangku sekolah membawa Felisha Febrianti sukses membangun Fojy Soymilk, sebuah usaha minuman berbahan dasar susu kedelai yang kini mulai dikenal masyarakat. Di balik kehadiran produk tersebut, terdapat proses panjang mulai dari dukungan keluarga, uji coba produk, hingga komitmen untuk terus berinovasi.

Felisha mengungkapkan, minatnya dalam berwirausaha sudah tumbuh sejak SMP dan SMA. Saat itu ia sempat menjadi reseller makanan sebelum akhirnya memutuskan mengambil jurusan kewirausahaan di bangku kuliah agar sejalan dengan cita-citanya menjadi pebisnis.

"Dari zaman SMP dan SMA saya memang sudah tertarik sama bisnis. Awalnya cuma coba-coba jadi reseller makanan. Karena kuliahnya juga mengambil kewirausahaan, akhirnya saya linierkan dengan usaha yang sekarang," ujar Felisha dalam Jagongan UMKM Pro 4 RRI Malang, Rabu (5/8/2026).

Ia mengatakan, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan bisnisnya. Bahkan, ide mendirikan Fojy Soymilk berasal dari sang ayah yang kemudian ia kembangkan menjadi sebuah produk dengan konsep yang lebih modern.

"Alhamdulillah orang tua mendukung penuh. Tidak ada paksaan harus kerja atau bisnis. Justru ide usaha ini dari ayah saya, lalu saya mencoba mengembangkan menjadi Fojy Soymilk," katanya.

Meski terlihat sederhana, proses menciptakan Fojy Soymilk tidaklah mudah. Felisha membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk melakukan berbagai uji coba demi menemukan perpaduan rasa susu kedelai yang sesuai dengan selera masyarakat.

Menurutnya, susu kedelai memiliki karakter yang berbeda dibandingkan susu sapi sehingga setiap varian rasa harus diracik dengan komposisi yang tepat agar tetap mempertahankan cita rasa khas kedelai.

"Untuk menemukan rasa yang pas kami butuh waktu sekitar dua bulan. Karena susu kedelai berbeda dengan susu sapi, jadi rasa kedelainya dengan varian seperti cokelat, matcha, dan lainnya harus benar-benar balance. Pemilihan bahan bakunya juga kami ganti beberapa kali supaya menemukan rasa yang cocok," jelasnya.

Seluruh proses produksi juga dilakukan secara mandiri dengan mempelajari karakter kedelai secara otodidak. Mulai dari daya tahan produk, teknik pengolahan, hingga pemanfaatan limbah produksi dipelajari melalui berbagai sumber.

"Kami belajar sendiri bagaimana karakter kedelai, tahan berapa lama di kulkas, sampai apa saja yang bisa diolah. Bahkan ampas kedelainya juga masih bisa dimanfaatkan menjadi produk lain," ungkapnya.

Karena tidak menggunakan bahan pengawet, Fojy Soymilk hanya mampu bertahan sekitar lima hari hingga maksimal satu minggu dalam lemari pendingin. Untuk menjaga kualitas sekaligus mengurangi limbah, produksi dilakukan setiap tiga hari sekali sesuai kebutuhan pasar. Sementara itu, susu kedelai yang mendekati batas konsumsi diolah kembali menjadi puding.

Di balik perkembangan usahanya selama enam bulan terakhir, Felisha mengaku tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri, yakni menjaga konsistensi dalam menjalankan bisnis.

"Kalau tantangan internal sebenarnya ada di diri sendiri supaya tetap konsisten. Sedangkan tantangan eksternal adalah mengenalkan produk ke masyarakat dan terus berinovasi," tuturnya.

Ke depan, Fojy Soymilk tidak hanya akan menghadirkan berbagai varian minuman, tetapi juga berencana mengembangkan aneka makanan berbahan dasar kedelai, mulai dari dessert hingga camilan gurih. Inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas pilihan produk sekaligus memanfaatkan seluruh bagian kedelai secara maksimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....